Skip to main content

WAWANCARA PRABOWO DARI BANGKOK TERKAIT KERUSUHAN MEI 98

Wawancara dari Bangkok, Thailand, Letjen TNI (Purn.) Prabowo Subianto bicara soal penculikan aktivis, sangkaan keterlibatannya dalam kerusuhan 13-14 Mei 1998, serta hubungannya dengan Soeharto, Habibie, dan Wiranto.

Dari siaran berita di radio, Letjen TNI (Purn.) Prabowo Subianto mendengar berita rekomendasi Dewan Kehormatan Perwira (DKP) bentukan Mabes ABRI. Ia dibebastugaskan dari karier militernya. Hari itu, Selasa, 25 Agustus 1998. “Saya tidak kaget,” kata Prabowo. Sebelum DKP mulai bekerja, mantan pangkostrad ini telah tahu hasilnya. Ia mesti menepi. 

Adalah mertuanya sendiri, mantan presiden Soeharto, yang mengisyaratkan supaya ia terbit saja dari militer. “Itu lebih baik untuk ABRI,” kata Pak Harto, selama dua bulan sebelum keputusan itu. Sejak lengser dari posisi presiden, 21 Mei 1998, hubungan antara Prabowo dan mertuanya merenggang.

 Dia dirasakan berkoalisi dengan Habibie untuk mengurangi Soeharto supaya lengser, mengingat situasi yang kian panas di masyarakat.




Keyakinan Prabowo kian kuat ketika bertemu dengan mantan pangab Jenderal TNI (Purn.) L.B. Moerdani, pada satu acara, tak lama sebelum DKP menyelesaikan pemeriksaannya. Di situ, Benny memberi sinyal yang sama. 

Karier Prabowo di militer telah tamat. “Jadi, keputusan guna menyingkirkan saya telah jatuh sebelum DKP dibentuk,” tutur mantan Danjen Kopassus ini. DKP disusun untuk mengusut sangkaan keterlibatan sebanyak perwira tinggi ABRI dalam permasalahan penculikan sembilan aktivis. 

Sanksi dibebastugaskan dari karier militer, bahasa halus guna dipecat, hanya milik Prabowo. Mantan Danjen Kopassus Mayjen TNI Muchdi P.R., penerus posisi Prabowo yang diusung jadi pangkostrad, pada 20 Maret 1998, Cuma ditanggalkan dari jabatannya. Status militer tetap. Begitu pun Kolonel Chairawan, mantan komandan grup IV Kopassus.

Prabowo pasrah. “Ini risiko jabatan sebagai komandan,” katanya. Penangkapan aktivis terjadi kala ia masih menjabat Danjen Kopassus. Dalam pengecekan terbukti, Tim Mawar yang beranggotakan 11 prajurit Kopassus pimpinan Sersan Mayor Bambang Kristiono menyatakan “mengamankan” sembilan aktivis itu, guna melempangkan jalan untuk SU MPR 1998. 

Yang dia sesalkan, keputusan DKP malah tak pernah diterimanya langsung. Keesokan harinya, Prabowo menghadap ke Mabes ABRI, menanyakan ihwal keputusan itu. Dia bertemu Kasum ABRI Letjen TNI Fahroel Rozi, salah seorang anggota DKP, yang kemudian menganjurkan Prabowo bertemu Panglima ABRI Jenderal TNI Wiranto.



Tim Mawar 01

Kesempatan diserahkan keesokan hari, Kamis, 27 Agustus 1998. Pertemuan tersebut cuma dilangsungkan 10 menit. Mengenang pertemuan tersebut, Prabowo menulis reaksi Wiranto membingungkan. Panglima ABRI ini bersikap seakan-akan tak bisa melakukan apa-apa untuk menolong Prabowo. “Kamu kan tahu kondisinya,” begitu perkataan Wiranto untuk Prabowo. 

Prabowo pun enggan berbasa-basi. “I don’t like it,” katanya. Seraya menatap mata Wiranto, Prabowo mohon maaf atas kekeliruan yang dibuatnya selaku prajurit ABRI. Prabowo pun pamit guna ke luar negeri, mengemban umrah dan berobat. “Saya tidak jarang mengalami kemalangan dalam bertugas. Karena itu, saya bakal menggunakan peluang ke luar negeri guna berobat di Jerman,” kata Bowo, panggilan akrabnya. 

Dia pun minta tolong supaya surat pensiunnya dari ABRI segera dikeluarkan supaya dirinya dapat membantu adiknya, Hashim Djojohadikusumo berbisnis di Timur Tengah. “Saya kan perlu menggali nafkah,” ujar Bowo. Surat pensiun tersebut akhirnya diteken pada 20 November 1998, sedangkan TGPF mengucapkan laporannya pada 3 November 1998. Itulah pertemuan terakhir dengan Wiranto. Setelah itu, seraya mengantar anak dan istrinya, yang berkeinginan ke AS, Prabowo berpamitan ke Pak Harto di Cendana.

Kini, satu tahun lebih berlalu. Langkah Prabowo jadi pebisnis kian mantap. Penampilannya terlihat lebih santai dan terbuka. Prabowo yang sekarang memakai kacamata baca tersebut kelihatan lebih gemuk. “Pakai kacamata biar terlihat lebih intelek,” kata Bowo seraya terbahak. Perjalanan bisnisnya menciptakan ia tidak jarang mampir ke negara tetangga, bertemu relasi setempat, juga kawan-kawan dari Indonesia.

Kamis (14 Oktober) lalu, ia mampir sehari ke Bangkok dalam perjalanannya ke Boston, AS, guna acara keluarga. Di Bangkok, Prabowo sempat berbincang-bincang dengan empat wartawan dari Indonesia, tergolong dari Panji. Penulis berpeluang ngobrol blak-blakan dengan Prabowo Rabu malam, dilanjutkan Kamis pagi sampai malam harinya. Ia didampingi Fadli Zon. Sejumlah pertanyaan Panji dijawabnya dengan terbuka walau pada sejumlah poin ia mohon nirwarta (off the record). “Saya tak hendak menimbulkan friksi dan perasaan tidak enak pada siapa pun,” kata Bowo.



Soal surat Muladi untuk Komnas HAM. kita sebenarnya dibebastugaskan karena permasalahan penculikan atau kerusuhan 13-14 Mei 1998?
Itulah yang saya bingung. Saya dicek oleh DKP sejumlah kali. Mungkin tiga atau empat kali. Dan seluruh pertanyaan saya jawab. DKP tersebut kan khusus menginvestigasi soal penculikan sembilan aktivis. Saya individu tidak suka memakai istilah penculikan karena tersebut kan kekeliruan teknis di lapangan. Niat sebenarnya ialah mengamankan aktivis radikal supaya tidak mengganggu rencana pengamalan SU MPR 1998. Bahwa lantas anak buah saya menyekap lebih lama sehingga disebutkan menculik, tersebut saya anggap kekeliruan teknis. Tanggung jawabnya saya ambil alih.



Di DKP apakah ditanyai soal pemberi perintah penculikan?
Tentu. Tapi perintah mencuri tidak ada. Yang terdapat operasi intelijen untuk menyelamatkan aktivis radikal itu. Sebab saat tersebut kan telah terjadi ancaman peledakan bom di mana-mana. Dalam DKP saya sampaikan bahwa perintah pengamanan tersebut tidak rahasia. Mereka, semua jenderal yang mengecek saya juga tahu. Itu dari atasan dan sebanyak instansi, tergolong Kodam dilibatkan.



Benarkah kita mendapat susunan 28 orang yang mesti “diamankan” dalam konteks SU MPR?
Wah, dari mana kita tahu? Tapi saya memang terima satu susunan untuk diselidiki. Jadi, guna diselidiki. Bukan guna diculik.



Dari siapa kita terima susunan itu?
Saya tidak dapat katakan. Semua telah saya katakan di DKP. Kita ini kan mesti menjaga kebesaran institusi ABRI. Keterangan saya di DKP terdapat rekamannya.




Benarkah susunan itu kita terima langsung dari RI 1, yaitu presiden ketika itu, Soeharto?
Saya susah menjawab. Kepada Pak Harto saya paling hormat. Beliau panglima saya. Kepala negara saya. Bahkan, lebih jauh lagi, beliau mertua saya, kakek dari anak saya. Bayangkan sulitnya posisi saya. Tapi semua tersebut sudah saya ucapkan ke DKP.



Anda tidak tanya pada Pak Harto susunan itu didapat dari mana?
Tentu saya tanya.



Pak Harto ngomong apa pada Anda masa-masa memberikan susunan itu?
Ha… ha… ha… Pertanyaan bagus, tapi susah dijawab.





Kapan kita terima susunan itu dari Pak Harto?
Beberapa hari sesudah ledakan bom di lokasi tinggal susun Tanah Tinggi.



Apakah nama 14 aktivis yang sampai sekarang belum ketahuan rimbanya terdapat di situ?
Saya lupa. Mungkin tidak. Itu susunan kan bila saya tidak salah didapat dari lokasi tinggal susun Tanah Tinggi. Jadi macam-macam nama orang terdapat di situ. Akan halnya enam aktivis, Andi Arief dkk., tersebut ada dalam susunan pencarian orang (DPO), yang diserahkan polisi. Yang tiga, Pius Lustrilanang, Desmond J. Mahesa, dan Haryanto Taslam, tersebut kecelakaan. Saya tak pernah perintahkan untuk menciduk mereka. Semua menggali mereka yang terdapat dalam DPO itu. Kita bisa brifing terus dari Mabes ABRI. Kita tidak jarang kali ditanyai. Sudah bisa belum Andi Arief. Tiap hari ditanya. Sudah bisa belum si ini… begitu. Kejar-kejaran semua. Itu pun, maaf ya, walau saya tanggung jawab, saya tanya anak-anak. Eh, kalian saya perintahkan nggak? BKO hingga nyebrang ke Lampung segala. Mereka ini namanya mau menggali prestasi. Tapi saya puji masa-masa mereka dapat. Mereka kan menolong polisi yang terus mencari-cari anak-anak itu. Soalnya Andi Arief kan dikejar-kejar.






Di samping Anda, siapa lagi yang menerima susunan itu dari Pak Harto? Apakah betul Kasad Jenderal Wiranto dan pangab ketika itu, Jenderal Feisal Tanjung menerima susunan serupa?
Yang dapat saya pastikan, saya bukan satu-satunya panglima yang menerima susunan itu. Pimpinan ABRI lainnya pun menerima. Dan susunan itu memang sifatnya guna diselidiki. Perintahnya begitu. Seingat saya, Pak Harto sendiri telah mengakui untuk sejumlah menteri bahwa itu ialah operasi intelijen. Di kalangan ABRI, telah jadi pengetahuan umum. Tapi, sudahlah, bila bicara Pak Harto saya sulit. Apalagi saya enggan memecah-belah lembaga yang saya cintai, yaitu ABRI, terutama TNI.



Bukankah hubungan kita dan Pak Harto belakangan retak?
Itu benar dan paling saya sesalkan. Mungkin terdapat yang menyerahkan masukan untuk Pak Harto, seakan-akan saya telah tidak loyal untuk beliau. Saya disebutkan sudah main mata dengan Pak Habibie dan karena tersebut menyarakan supaya Pak Harto lengser pada pertengahan Mei. Mungkin tersebut yang menciptakan Pak Harto marah untuk saya. Ironis, bukan? Oleh masyarakat saya dirasakan sebagai kedudukan quo sebab menjadi unsur dari Pak Harto. Saya tidak menyesal. Memang saya menikah dengan putrinya. Tapi Pak Harto sendiri, dan keluarganya, malah marah untuk saya.





Benarkah kita mengusulkan supaya Pak Harto lengser?
Ya. Malah sebelum Pak Harto mundur, sesudah terjadi peristiwa Trisakti, saya pernah mengatakan untuk seorang diplomat asing. Tampaknya Pak Harto bakal mundur. Eskalasi kondisi dan peta geopolitik saat tersebut menghendaki demikian. Saya pun kemukakan ini sehari sesudah Pak Harto pulang dari Kairo (15 Mei 1998—Red.). Aplagi Pak Harto di Kairo memang mengisyaratkan keikhlasan untuk lengser. Mungkin terdapat yang tidak suka saya bicara terbuka. Tapi saya biasa bicara apa adanya dan terus terang. Saya tidak suka basa-basi. Mungkin di situ masalahnya.



Kenapa kesudahannya Anda memungut tanggung jawab penculikan sembilan aktivis?
Di situ saya merasa agak dicurangi dan diperlakukan tidak adil. Mengamankan enam orang ini kan sebuah keberhasilan. Wong orang mau mengerjakan aksi pengeboman, anda mencegahnya. Mereka merakit 40 bom. Kita menemukan 18, terdapat 22 bom yang masih beredar di masyarakat. Katanya yang 22 tersebut sudah diangkut ke Banyuwangi. 

Bom yang meledak di rusun Tanah Tinggi dan di Demak, Jawa Tengah tersebut kan sebab anak-anak itu, semua aktivis, nggak begitu berpengalaman merakit bom. Jadi, tidak cukup hati-hati, salah sentuh, meledak. Di Kopassus juga tidak sembarang orang dapat merakit bom. Tidak seluruh orang bisa. Ini terdapat spesialisasinya. Saya tidak bisa buat bom. Jadi anda ini menangkal peledakan bom di tempat-tempat strategis dan pembakaran terminal. Kita mestinya dapat perkataan terima kasih sebab melindungi hak asasi masyarakat yang dalam bahaya peledakan itu. Soal tiga orang, memang kesalahan. Saya mohon maaf pada Haryanto Taslam dan yang lain. Tapi dia pun akhirnya terima kasih. Untung yang menciduk saya. Kan hidup semua. Saya inginkan bertemu mereka.



Anda pernah beranggapan tidak bahwa dokumen atau susunan yang berasal dari rusun Tanah Tinggi itu produksi pihak yang berniat jahat?
Belakangan saya beranggapan juga. Jangan-jangan dokumen tersebut bikinan. Dalam dokumen itu, seakan-akan ada rapat di lokasi tinggal Megawati. Saya nggak dapat dan tidak inginkan menyalahkan anak buah. 

Saya katakan untuk mereka, you di pengadilan inginkan ngomong apa aja deh, saya bakal ikuti. Saya diadili pun siap. Saya bilang, Haryanto Taslam saya perintahkan nggak guna ditangkap? Tidak ada. Tapi saya ambil alih tanggung jawab. Di DKP juga saya katakan bahwa anak-anak tersebut tidak bersalah. Mereka ialah perwira-perwira yang terbaik. Saya tahu persis sebab saya komandan mereka. Cek saja rekamannya di DKP. 

Tapi bahwa barangkali mereka salah menafsirkan, terlampau antusias, sehingga mengulas perintah saya begitu, ya dapat saja. Atau terdapat titipan perintah dari yang lain, saya tidak tahu. Intinya, saya menyatakan bertanggung jawab.



Apa memang terdapat pihak yang ikut nimbrung saat tersebut memberikan perintah?
Bisa saja. Saya tidak tahu. Tapi tetap apa yang telah terjadi ialah tanggung jawab saya. Tetap tersebut anak buah saya. Saya kan harus percaya sama anak buah. Makanya saya nggak apa-apa diberhentikan. Saya nggak heran. Ini risiko saya. Iya kan?

Tapi bila kemudian saya telah berhenti, masih diisukan ini, itu, diciptakan begini, begitu. Ah…, saya merasa dibuat kecewa oleh Pak Wiranto. Saya merasa mestinya dia tahu situasinya saat tersebut bagaimana. Dia tahu kok terdapat perintah investigasi itu. Begitu dia jadi pangab, saya pun laporkan, sedang terdapat operasi intelijen, sandi yudha, begini, begitu. Kepada sejumlah menteri Pak Harto ngomong bahwa tersebut operasi intelijen. Tapi begitu Pak Harto tidak berkuasa, situasinya dimanfaatkan oleh perwira yang hendak menyingkirkan saya.




Apa betul AS berkepentingan supaya Anda dipecat?
Tidak tahu. Tapi Cohen (Menhan AS William Cohen—Red.) kan ketemu
saya juga.
Perintahnya menginvestigasi kok dapat kepeleset menculik. Bagaimana itu?
Ya. Tapi dalam operasi intelijen tersebut kan seringkali kita ambil, ditanyai, dan kalau dapat terus dia berkerja guna kita. Kan begitu prosedurnya. Sudahlah, tersebut kesalahan teknis, yang lantas dipolitisasi. 

Dan memang waktu tersebut saya mesti dihabisi. Dulu Jenderal Soemitro dituduh tercebur Malari, inginkan menyaingi Pak Harto. Pak H.R. Dharsono dituduh terlibat permasalahan Tanjung Priok. Itu politik. Yang lantas naik orang yang nggak dapat apa-apa, nggak pernah buat inisiatif dan karenanya tidak pernah buat salah. Lihat Prancis, tersebut kan negara yang menjunjung tinggi hak sasai manusia. Tapi, dia ledakkan kapal Greenpeace yang inginkan masuk ke perairan nasionalnya. Kalau telah kepentingan nasional dia ledakkan itu.



Anda kan lama di luar negeri, besar di negara yang liberal, dan menjunjung tinggi hak asasi manusia. Kok kita tetap mentolerir gaya penangkapan atau penculikan itu? Bukankah tersebut menjadi sorotan dunia internasional terhadap penegakan HAM di Indonesia?
Benar. Begini, secara moral, saya tidak salah sebab orang-orang tersebut berniat melakukan kejahatan yang berlawanan dengan hak-hak asasi manusia. Berdasarkan keterangan dari saya menciptakan aksi pengeboman, menghanguskan terminal, guna mengorbankan orang-orang tidak berdosa. Mereka malah membahayakan hak asasi insan orang lain. Tidak dapat dong. Kalau you bertolak belakang dalam politik, you bertempur lewat partai politik. Jangan buat aksi teror.

Informasi soal rencana pengeboman tersebut didapat dari interogasi, bukan anda ngarang. Dapat penjelasan dari mereka. kita dengar ancaman bom tiap minggu. Seluruh bank tutup, BI tutup. Korban untuk bangsa bagaimana. Itu aksi destabilisasi. Jadi, tidak boleh salah, untuk mendirikan demokrasi, kita malah harus mengawal keamanan. Tidak dapat demokrasi tanpa keamanan. Itu duty kita, panggilan kita. Tapi, lawan-lawan saya lebih kuat. Punya media massa, punya keterampilan untuk perang psikologi massa.



prabowo 03

Kok kita dulu tidak segera membantah bila memang merasa tidak bersalah?
Hashim memang mengajak saya. Kamu mesti jawab dong. Saya malas juga. Saya kan tidak berbuat. Saya percaya kebenaran bakal muncul. Hashim bilang, “Tidak dapat dong bila kamu diam berarti anda mengakui tersebut benar.” Memang terdapat teori itu. Teori duplikasi kebohongan. Kalau diulang-ulang terus, orang jadi percaya. Itu teori yang dipakai Hitler untuk rakyat Jerman.



Anda tidak inginkan nuntut soal pemecatan tersebut karena tidak hendak mempermalukan Pak Harto?
Benar, khususnya itu. Juga tak hendak mencemari institusi ABRI, terutama TNI AD. Bagaimanapun pun Pak Harto jenderal bintang lima. Ini kan tidak baik dalam iklim dan kebiasaan bangsa Indonesia. Apa juga yang terjadi. Ada masalah dilematis, bagaimanapun dia kakek dari anak saya. Itu yang dilematis. Walaupun dia lantas membenci saya.



Sebelumnya, Prabowo merasa diperlakukan tidak adil kala dipaksa memberikan jabatan sebagai pangkostrad pada 22 Mei 1998. “Saya tak sempat menciptakan memorandum serah terima jabatan. Istri saya, ketua Persit pun, lupa serah terima. Setahu saya, dalam sejarah ABRI, belum pernah terdapat perwira tinggi dipermalukan oleh institusinya, laksana yang saya alami,” kata Bowo. 

Dia memang digeser ketika situasi politik gojang-ganjing dan Soeharto baru lengser pada 21 Mei 1998. Dugaan yang beredar ketika itu, Bowo diganti karena dirasakan hendak melancarkan kudeta untuk Habibie. Malam itu, sesudah peralihan presiden pagi harinya, kondisi Jakarta memang genting. Sejumlah pasukan berseragam loreng terlihat di seputar distrik Istana Negara, Monas, Jakarta.

Dugaan terjadi pengepungan Istana sempat ditentang habis-habisan oleh Mabes ABRI. Padahal, sebanyak media massa memberitakannya. Kemudian, pada 22 Februari 1999, di depan sebanyak eksekutif pers dalam forum Asia-German Editors, di Istana Merdeka, Presiden Habibie bercerita soal pengepungan itu. Habibie menyatakan keluarganya dalam bahaya malam itu, dan hampir diungsikan. “Tidak usah ditutup-tutupi, anda tahulah yang memimpin fokus pasukan itu, orangnya Prabowo Subianto,” kata Habibie berapi-api. Dia menyatakan diberi tahu Wiranto. Pers geger. Prabowo saat tersebut sudah di luar negeri. Lewat sahabat dekatnya, ia membantah.







Dan, dua hari kemudian, dalam sidang di Komisi I DPR RI, Jenderal Wiranto menyangkal ucapan Habibie. Menurutnya, tersebut bukan fokus pasukan, tetapi konsolidasi. Tak terdapat yang berniat kudeta ketika itu. Anehnya, Habibie tak bereaksi atas sangkalan Wiranto itu. Sehingga publik kian bingung, mana yang benar, perkataan Habibie atau Wiranto. Benarkah Habibie bisa masukan dari Wiranto? Sebab dalam satu pertemuannya dengan figur Dewan Dakwah Islamiyah, 30 Juni 1998, Habibie menyatakan diberi tahu soal fokus pasukan tersebut oleh Letjen TNI Sintong Panjaitan, orang dekat Habibie yang sekarang menjabat sesdalopbang.







Setelah berkelana di luar negeri, ketenangan Prabowo terusik oleh perkataan Habibie itu, yang dilansir oleh pers luar negeri pula. Tapi, sangkalan Wiranto lumayan menenangkannya. “Pak Wiranto mesti membantah sebab memang apa yang dibacakan Habibie tidak benar,” kata Bowo. Menurutnya, seluruh panglima saat tersebut menerima perintah dari Mabes ABRI. Saat kondisi genting, terdapat pembagian tugas, bahwa Kopassus dipasrahi menjaga presiden dan wakil presiden, sementara Kostrad diminta mengawal objek vital dan strategis. Kata Prabowo, untuk mengemban perintah Mabes ABRI itulah sebanyak pasukan berada di dekat kawasan Istana dan Monas. “Pak Wiranto tahu serupa bahwa perintah tersebut ada. Saksinya banyak, semua panglima komando,” kata Bowo.







Dalam pengecekan di TGPF, terdapat kesan pekerjaan Anda pada 13 Mei 1998 tidak diketahui. Muncul kecurigaan, kita sedang apa ketika itu? Apa sih yang Anda kerjakan hari itu?
Saya mulai dari 12 Mei 1998. Malam itu, pukul 20.00 wib, saat di lokasi tinggal Jl. Cendana No. 7, saya ditelepon Sjafrie (Pangdam Jaya ketika itu, Mayjen TNI Sjafrie Sjamsoeddin). Kata dia, “Gawat nih, Wo, terdapat mahasiswa yang tewas tertembak.” Saya kemudian bergegas ke Makostrad. Saya telah antisipasi, kelak pasti ramai. Maka pasukan saya konsolidasi. Kalau perlu ekstra pasukan kan harus disiapkan tempatnya. Mau diletakkan di mana mereka. Malam tersebut saya terus mengawasi situasi. Lalu, terpikir oleh saya, kelanjutan rencana acara Kostrad di Malang pada 14 Mei 1998. Rencananya inspektur upacara ialah Pangab Wiranto. Pangkostrad pun harus hadir. Kalau ibu kota genting, apa anda tetap pergi juga?

Keesokan harinya, semenjak pukul 08.00 WIB, saya mengontak Kol. Nur Muis dan mengucapkan usulan supaya acara di Malang ditunda. Atau, kehadiran pangab diurungkan saja sebab situasi ibu kota genting. Biar saya saja yang berangkat.

 Jawaban dari Pak Wiranto yang dikatakan lewat Kol. Nur Muis, acara tetap dilangsungkan sesuai rencana. Irup (Inspektur Upacara—Red.) tetap Pak Wiranto dan saya selaku pangkostrad tetap hadir. Beberapa pilihan usulan saya tawarkan untuk Pak Wiranto, yang intinya supaya tidak meninggalkan ibu kota, sebab keadaan sedang gawat. Posisi terpenting yang mesti diamankan ialah ibu kota. Tapi, hingga sekitar delapan kali saya telepon, keputusan tetap sama. Itu terjadi hingga malam hari.

Jadi, pada 14 Mei, pukul 06.00 WIB kita telah berada di lapangan Halim Perdanakusumah. Saya kaget juga. Panglima utama terdapat di sana. Danjen Kopassus segala ikut. Saya membatin, sedang genting begini kok semua panglima, tergolong panglima ABRI justeru pergi ke Malang. Padahal, komandan batalion sekalipun telah diminta menciptakan perkiraan cepat, estimasi operasi, begini, kemudian bagaimana setelahnya. Tapi, ya sudah, saya patuh saja pada perintah. Saya ikut ke Malang.

Kembali ke Jakarta selama pukul 11.00 WIB. Ketika berkeinginan mendarat di Halim, ibu kota tampak diselimuti asap hitam. Selanjutnya, laksana telah ditulis di sekian banyak  media massa, saya menolong mengingatkan Sjafrie perlunya menyelamatkan ibu kota lewat patroli dengan panser di sepanjang Jl. Thamrin. Malam harinya, saya bertemu dengan sebanyak orang di Makostrad. Itu yang lantas dituduh inginkan merencanakan kerusuhan. Padahal, di tengah jalan sore tersebut saya ditelepon, sebab Setiawan Djodi dan Bang Buyung Nasution hendak bertemu. Ternyata telah ada sejumlah orang di kantor saya, terdapat Fahmi Idris, Bambang Widjojanto, dan sejumlah orang lain. Itu pertemuan terbuka, merundingkan situasi yang terakhir. Bang Buyung berpengaruh sekali malam itu. Dia tidak sedikit bicara. Acara diblokir makan malam dan lantas kami terdapat rapat staf di Mabes.

Kalau lantas surat Muladi menuliskan saya bersalah sebab gagal mengawal keselamatan negara sehingga memunculkan kerusuhan 13-14 Mei, bagaimana ceritanya.



Pangkoops, selaku penanggung jawab ketenteraman ibu kota ialah Pangdam Sjafrie?
Mestinya iya. Penanggung jawab yang lebih tinggi ya panglima ABRI.



Dalam pengecekan di TGPF, mantan Ka BIA (Kepala Badan Intelijen ABRI—Red.) Zacky Makarim, konon menuliskan bahwa sebulan sebelum peristiwa Trisakti, ada estimasi situasi intelijen versi Anda, yang mengatakan, kenaikan meningkat dan dikhawatirkan bakal ada martir di kalangan mahasiswa. Bagaimana Anda hingga pada benang merah itu?

Situasinya memang demikian. Aksi mahasiswa kan bukan hanya di Jakarta, tetapi meluas ke daerah. Di Yogyakarta, aksi mahasiswa justeru sempat bentrok. Berdasarkan analisis situasi, saya mengingatkan bisa jadi adanya kenaikan yang memanas dan bila aksi mahasiswa meluas, bukan tidak barangkali jatuh korban atau terdapat pihak-pihak yang hendak ada korban di pihak mahasiswa. Itu saya ingatkan.



Tapi, malah Anda dituduh bertanggung jawab atas penembakan mahasiswa Trisakti?
Iyalah. Saya ini tidak jarang kali dituduh. Apa untungnya untuk saya menciptakan jatuh korban? Saat tersebut kan presidennya Pak Harto. Mertua saya. Saya unsur dari kedudukan quo itu. Kan begitu tuduhannya. Masak saya menciptakan situasi supaya Pak Harto jatuh. Pak Harto jatuh kan saya jatuh juga. Sejarah kan begitu kejadiannya.



prabowo007

Mungkin Anda hendak menunjukkan bahwa Wiranto tidak kapabel menyelamatkan Jakarta?
Tidak ada dalil juga. Motifnya tidak ada.



Bukankah kita pernah disinggung minta jabatan pangab dan katanya dijanjikan Habibie guna jadi pangab?
Lebih dari tiga kali Habibie mengatakan untuk saya. “Bowo, bila saya jadi presiden, you pangab.” Itu faktanya. Habibie bahkan menuliskan saya ini sudah dirasakan anak ketiganya. Saya memang dekat dengan Habibie, sebab saya mengagumi kepandaiannya, visinya. Meskipun kini saya kecewa sebab dia mendakwa saya melakukan sesuatu yang bohong. Saya merasa dikhianati. Bahwa saya hendak jadi pangab, apakah tersebut salah. Setiap prajurit, tentara, tentu berangan-angan menjadi pangab. Why not? Saya tidak pernah menyembunyikan itu. Bahwa lantas dipolitisasi, seakan-akan pada ketika genting, saat peralihan kepemimpinan 21 Mei 1998 itu, saya mohon jadi pangab, silakan saja. Tapi, saya tak pernah mohon jadi pangab untuk Habibie.





Benar tidak kita pernah didesak jadi pangab selama 19-20 Mei itu?
Ada yang mendesak. Bahkan terdapat yang mengusulkan supaya saya memungut alih situasi. Saya tolak. Saya orang yang konstitusional. Wapres masih terdapat dan sehat. 

Menhankam/Pangab masih ada. Tidak ada dalil untuk memungut alih. Kalau saya mengerjakan kudeta, setelah tersebut mau apa? Inkonstitusional, tidak demokratis, dan lebih berat lagi, secara psikologis saya ini kan berhubungan dengan family Pak Harto. Kalau Pak Harto sudah memberikan ke Habibie, masak saya inginkan kudeta? Di luar tersebut semua, yang terpenting, saya berasal dari keturunan family pejuang. kita tahu paman saya gugur sebagai pahlawan muda. Kakek saya pejuang. Moyang saya, selalu berusaha melawan penjajah kolonial Belanda. Bagaimana barangkali saya menodai garis keturunan yang begitu saya banggakan, dengan beranggapan mengambil alih dominasi secara inkonstitusional.



Ketika Habibie menuliskan Anda datang mendatangi Habibie pada 22 Mei 1998, benarkah Anda membawa senjata dan pasukan sampai-sampai Habibie merasa terancam?
Senjata saya tanggalkan di depan pintu. Jangankan menghadap presiden, wong menghadap komandan kompi saja senjata mesti dicopot. Bohong besar berita yang menuliskan saya berkeinginan mengancam Habibie.

Jujur saja, bila memang saya ingin, dapat saja. Jangan meremehkan pasukan Kopassus, lokasi saya dibesarkan. Ingat, Pak Sarwo Edhi (almarhum) hanya perlu dua kompi untuk menanggulangi situasi ketika G-30-S/PKI. Dan anak buah saya memang terdapat yang sakit hati saya dibebastugaskan seperti itu. Pataka komando hendak dipungut begitu saja tanpa sepengetahuan saya. 

Saya datang ke Habibie sebab sebelumnya dia tidak jarang kali berkata. “Bowo, bila ada keragu-raguan, tidak boleh segan-segan mendatangi saya.” Itulah yang saya lakukan. Menemui Habibie guna bertanya apakah betul dia hendak mengubah saya dari jabatan pangkostrad. Habibie bilang turuti saja perintah atasan. Ini keinginan ayah mertua anda juga. Jadi, Pak Harto memang mohon saya diganti.



Soal anggapan bahwa semua jenderal hendak menyingkirkan Anda, apakah ini diakibatkan oleh sikap kita sebelumnya yang dinamakan arogan, sebab dekat dengan pusat kekuasaan?
Saya akui, tersebut ciri khas. 

Dan tersebut jadi senjata bikin yang hendak menjatuhkan. Tapi anda lihat kepemimpinan tersebut dari output. Bisa tidak meraih prestasi bila prajuritnya tak semangat. Semangat tersebut tidak dapat dibeli dengan uang. Kadang-kadang mereka inginkan mati sebab bendera. Kain tersebut harganya berapa? Tentara Romawi habis-habisan demi bendera. Itu kan kebanggaan. Bagaimana? Saya ciptakan teriakan, berapa harganya? Saya dapatkan dari gaya suku dayak. Teriakan panjang itu dapat membangkitkan semangat, meminimalisir ketakutan, dan menakutkan musuh. 

Pakai fulus berapa? Tapi hal-hal ini tidak populer di mata the salon officer. Apa nih Prabowo gunakan nyanyi-nyanyi segala. Pakai bendera, gunakan teriakan. Kenapa orang ekstrem membela sepakbola, hingga membakar, ini psikologi massa. Masa anda mau mati sebab uang? Buat apa uangnya bila kita mesti mati.

Sebagai menantu presiden ketika itu, pasti Anda lebih gampang naik pangkat dibanding yang lain. Ini buat cemburu pun kan?
Ya, namun akses untuk penguasa politik. Itu wajar. Jenderal Colin Powell, peringkat ke berapa dia dapat jadi pangab AS. Dia bekas sekretaris militer Bush masa-masa jadi wakil presiden. Jadi, masa-masa Bush jadi presiden, dia jadi pangab. Bahwa saya punya akses untuk penguasa politik, saya sependapat. Tapi kan tidak saja saya. Pak Wiranto kan dari ajudan presiden.

 Langsung kasdam, langsung pangdam, langsung pangkostrad. Itu kan dakwaan saja untuk saya. Coba disaksikan berapa kali saya VC (kontak senjata langsung di medan operasi), berapa kali bertugas di wilayah operasi, berapa kali kesebelasan saya di Kopassus merebut kejuaraan, berapa kali operasi militer saya selesaikan, apa yang saya bikin di Mount Everest tersebut kan mengusung bangsa. Berapa saya mengajar prajurit komando dari sejumlah negara. Itu kan tidak dilihat. Yang ditelusuri cuma susunan dosa saya. Ya memang bila you dalam suasana kalah politik, segala dosa dapat ditemukan. Dia terbit negeri nggak izin, dia ini, dia itu. Semua dapat ketemu. Kalau menang? Itu kan politik.



Jordania, seolah menjadi negara ibu yang kedua untuk Letjen TNI (Purn.) Prabowo Subianto. Di Amman, ibu kota Yordania yang terletak di jazirah Arab, mantan pangkostrad ini bermukim di apartemen. Prabowo, yang ditanggalkan dari jabatan dan kariernya di ABRI, menyatakan jatuh cinta pada Jordania tanpa sengaja. “Saat saya disingkirkan oleh ABRI, oleh elite politik di Indonesia, negeri ini menerima saya dengan baik,” kata dia.

Persahabatannya dengan Raja Abdullah dibuka kala sang raja masih pangeran dan menjadi komandan tentara Jordania. Mereka bertemu di AS, tak lama sesudah Prabowo berlalu berobat di Jerman, sesudah pensiun dari militer tahun lalu. Pangeran Abdullah mengaku simpati dan mengundangnya mampir ke Amman.



Undangan itu diisi Bowo. Pada hari dan jam yang ditentukan (sekitar pukul satu siang), Prabowo berangjangsana ke markas tentara pimpinan Pangeran Abdullah. Terkejut dia sebab untuk menyambut kehadirannya sudah disiapkan upacara penyambutan tamu secara militer. Padahal Prabowo datang mengenakan busana kasual. Oleh anak buah Pangeran Abdullah, Prabowo “dipaksa” menginspeksi pasukan. Di ujung barisan, Pangeran Abdullah terlihat tersenyum-senyum dan mendekap Bowo. “Di sini, kita tetap jenderal,” bisik Abdullah. Tak lama kemudian, menjelang ayahnya, Raja Hussein mangkat, Abdullah dinobatkan sebagai putra mahkota dan lantas menjadi Raja Jordania. (Uni Z. Lubis)

Comments

Popular posts from this blog

DON HASMAN SANG FOTOGRAFER PENJELAJAH

Siang itu, Kamis, 19 April 2018, Dungus Forest Park Madiun kedatangan tamu luar biasa spesial: DON HASMAN. Masyarakat awam, utamanya di daerah, mungkin tidak banyak yang tahu siapa Don Hasman. Bahkan Mas Herutomo, yang sedang bergulat menyempurnakan gallery ranting di destinasi wisata hutan itu, hanya terkesima oleh kehadiran pria berusia 78 tahun yang menyalaminya dengan hangat. Don Hasman memang lebih dikenal karya etnofotografinya dibanding wajahnya. Bukan hanya di Indonesia, karya fotografi Don Hasman bahkan dikenal dunia! Maklum, sepanjang usianya, Don Hasman telah mendaki  banyak gunung di dunia, menjelajah suku-suku pedalaman.  Dia adalah orang Indonesia pertama yang mendaki Himalaya. Pada 1978, dia menaklukkan puncak Nuptse (7.861 mdpl). Dua tahun sebelumnya, Don Hasman menaklukkan Kala Patthar (5.644) dalam perjalanan menuju Everest Base Pria kelahiran Cirebon, 7 Oktober 1940, itu memang terkenal sebagai penjelajah. Pada  1986, Oom Don berhasil...

Hotel Tentrem TRADE MARK JAWA HOTEL BINTANG LIMA PILIHAN OBAMA

Perusahaan besar, apalagi hotel bintang lima, lazimnya memilih trade mark yang gagah, elite dan kebarat-baratan. Oleh karena itu, keputusan Irwan Hidayat, Presdir Sido Muncul, untuk menamai hotel bintang lima miliknya sebagai Hotel Tentrem, hemat saya, terbilang "berani" menabrak kelaziman.  Tapi, Mas Irwan yang saya kenal sejak 1992, memang seorang pengusaha visioner dan berpikiran otentik--sehingga sering dibilang "nyleneh". Ketika produk minuman energi pesaingnya gencar menayangkan iklan yang dibintangi olahragawan internasional berhonor miliaran, misalnya, Mas Irwan justru merilis iklan Kuku Bima produk Sido Muncul yang dibintangi Chris John, petinju nasional yang kemudian menjadi juara tinju dunia. Keputusan "nyleneh" Mas Irwan "menabrak" bintang iklan internasional dengan menampilkan bintang iklan nasional, tentu butuh keberanian mengambil risiko. Tak hanya itu, Mas Irwan juga menerima tantangan saya untuk menyandingkan Chr...

Televisi NASIB HIBURAN GRATIS RAKYAT KECIL Harry Tjahjono

Tahun 1989, ketika TV swasta belum ada, saya sudah menulis sinetron untuk TVRI. Tahun 1992, saya mengelola tabloid Bintang Indonesia bersama Yanto Bhokek, Erwin Arnada, Gunawan Wibisono, Ricke Senduk dan kemudian Arswendo Atmowiloto. Saya menggantikan posisi Bujang Pratiko, pemimpin redaksi tabloid televsi, film dan hiburan itu. Ketika itu RCTI baru lahir, disusul TPI. Dan Bintang Indonesia mengisi kekosongan penerbitan pers tentang televisi setelah tabloid Monitor dibredel dan Arswendo dipenjarakan. Monitor dan Arswendo merupakan media dan sastrawan jurnalis yang (pertama kali) secara spesifik, intens dan serius mengulas dan mengkritisi  produk, produser, penyelenggara dan artis pendukung acara televisi. Tidak ada program televisi yang luput dari pengamatan Monitor dan kritik Arswendo. Prestasi stake-holder televisi pun selalu diapresiasi Monitor dan dipujikan Arswendo yang menciptakan dan memopularkan istilah Sinetron, akronim dari Sinema Elektronik. Losmen, Jendel...