Skip to main content

PENCERAHAN REKAM JEJAK PRABOWO DALAM PERISTIWA 98

Karirnya di bidang militer terbilang sangat berkilauan dan membanggakan. Karir militer PS tergolong yang tercepat dalam sejarah ABRI. PS bahkan sempat dinamakan sebagai “The Brightest Star”. Dan dialah jenderal termuda yang meraih 3 bintang pada umur 46 tahun. 


Sebagai sesama orang militer, PS dapat dianggap sebagai “antitesa” dari SBY. Mungkin sebab karir beliau yang tidak sedikit diisi dengan penugasan di satuan tempur. Meski sama-sama adalah“The Rising Star” di tubuh ABRI ketika itu, SBY lebih dikenal sebagai perwira intelektualnya ABRI. 

Berbeda dengan SBY yang ingin analitis dan berhati-hati dalam memungut keputusan, sebagai perwira lapangan, PS ingin cepat “Take action”. Saat keputusan telah dibuat, PS bakal menjalankannya dengan sarat “determinasi”. Beliau siap menanggung segala konsekuensinya.

Salah satu contohnya ialah perihal peristiwa penculikan aktivis yang telah mencoret nama baik & menjadi penyebab kerusakan karir militernya. DKP (Dewan Kehormatan Perwira) yang menyelidiki permasalahan ini tidak pernah mengungkapkan hasil pemeriksaannya untuk publik. Tidak pun kepada PS yang notabene menjadi tertuduhnya. 

Tampaknya Wiranto sengaja memungut manfaat supaya “prasangka publik” menghukum PS lebih berat daripada dosanya. Meski PS bersikeras menuliskan tak pernah perintahkan, tetapi beliau memungut alih tanggung jawab anak buahnya. Saya ambil alih tanggung jawabnya, begitu kata beliau ketika itu. Sikap yang mesti ditunaikan mahal dengan hancurnya karir militer yang gilang gemilang, namun pun menunjukkan kualitas kepemimpinan PS.

Jika PS benar bersalah, kenapa korban-korban penculikan laksana Pius L. Lanang & Desmond J. Mahesa malah menjadi pengurus Partai Gerindra?

Meski begitu, kualitas kepemimpinan PS malah sudah teruji di saat-saat sangat kritis yang pernah dirasakan negeri ini. Untuk mereka yang lelah dengan kepemimpinan yang lemah, lama memungut keputusan, dan tidak jarang kali terkesan ragu-ragu, tampaknya PS ialah jawabannya. Untuk mereka yang muak dengan pemimpin yang sibuk selamatkan diri sendiri ketika ada masalah, maka PS ialah pilihan yang patut dipertimbangkan.

Dibanding memilih mengorbankan anak buahnya, PS memilih guna ambil alih tanggung jawab & menanggung sendiri resikonya.
Seorang kapten kapal yang baik bukanlah yang kesatu selamatkan diri ketika kapal tenggelam, tapi malah yang terakhir. Sayang, karir militer PS yang gilang gemilang itu selesai dengan teknik yang tidak cukup mengenakkan. Bahkan dapat dikatakan memilukan. 

PS dapat dikatakan pihak yang diungguli dalam proses perebutan dominasi dan pengaruh di tubuh militer pada waktu kritis tahun 1998.

Berbicara mengenai PS, anda tidak dapat lepas dari peristiwa kelam Mei 1998 yang mencoret nama bangsa Indonesia selamanya itu. Dan sebagai pihak yang kalah, PS menjadi “kambing hitam” dari seluruh kejadian tersebut. Ini pasti saja berpotensi menjadi pengganjal pencapresannya. 

Stigma sebagai “penjahat kemanusiaan” tentu akan dimanfaatkan sebagai senjata lawan-lawan politiknya guna menjatuhkan PS. Jika memang benar PS ialah tokoh yang bertanggung jawab terhadap peristiwa itu, maka dia telah menerima segala hukumannya. Bayangkanlah perasaan PS yang karir gemilangnya di dunia militer yang begiitu dicintainya tersebut harus berhenti dengan sejuta rasa malu dan aib. 

Lalu bagaimana andai semua tersebut tidak benar? Layakkah PS tersandera oleh prasangka tanpa bukti? Lantas pantas pulakah bangsa Indonesia kehilangan peluang untuk dipimpin oleh putera terbaiknya, melulu karena asumsi belaka?

Untuk bisa menilai PS secara lebih obyektif, maka kami akan kupas kembali secara rinci peristiwa yang terjadi di tahun 1998 itu. Kami akan sampaikan apa yang bahwasannya terjadi pada peristiwa mei 1998 dari sudut pandang yang bertolak belakang dari pemahaman umum sekitar ini.

Jauh sebelum peristiwa Mei ’98, proses penghancuran nama baik PS telah terjadi. Semua bermula dari rivalitas antara Prabowo & Wiranto. Ketidak-harmonisan PS dan Wiranto memang sudah dilangsungkan sejak lama. 

Mungkin sebab background dua-duanya yang jauh berbeda. PS yang kosmopolitan ingin mempunyai pola pikir yang terbuka sedangkan Wiranto dengan latar belakang Jawa yang paling kental lebih tertutup. 

Namun PS yang terbiasa dengan kompetisi terbuka semenjak kanak-kanak memandang rivalitas semacam tersebut sebagai urusan biasa & tidak dijadikan personal. Berbeda dengan Wiranto yang berlatar belakang paling ‘Jawa Tradisional’ itu, dia lebih serupa dengan Soeharto dalam menyikapi sebuah rivalitas. Lihat saja nasib yang menimpa pesaing-pesaing Soeharto yang mengganggu karir militernya di masa lalu. Jika tidak mati, membusuk di penjara.

Indikasi ketidaksukaan Wiranto tampak dengan absennya beliau sebagai Pangab dalam acara serah terima Pangkostrad Letjend. Soegiono untuk PS. Begitu pun saat pemberhentian secara hormat PS sebagai perwira militer, beliau menanggalkan tanda-tanda pangkat PS dengan satu tangan saja. 

Proses selesai secara paksanya karir militer PS memang tidak dapat dilepaskan dari rivalitas perwira muda dan perwira tua. PS sebagai representasi perwira muda pasti saja menjadi sasaran tembak utama ketika itu. Posisi PS saat tersebut benar-benar terjepit.

 Di satu sisi, dia ialah menantu penguasa yang sedang menjadi sasaran sentimen negatif rakyat. Di sisi lain, dampak manuver Wiranto cs, Soeharto yang masih punya pengaruh malah membencinya hingga ke ubun-ubun. Sampai-sampai untuk penggantinya (yaitu Habibie), beliau mengucapkan pesan khusus guna “mengamankan” PS.

Bagaimana urusan tersebut dapat terjadi?
Semua tidak terlepas dari peristiwa Mei yang mencekam itu. Peristiwa yang sampai kini masih menghantui republik ini.
Sesungguhnya terdapat 3 dakwaan utama yang ditunjukkan kepada PS:
Penculikan aktivis,
Penembakan mahasiswa Trisakti, dan
Dalang kerusuhan Mei 1998.
Tidak satupun tuduhan itu yang terbukti. Seandainya PS bersalah, bukankah Pangab saat tersebut Wiranto? Bukankah sebagai Panglima, beliau yang seharusnya sangat bertanggung jawab? Mengapa sampai saat ini PS tidak pernah diberitahu mengenai hasil investigasi DKP sampai-sampai tidak dapat membela diri? Mengenai penembakan mahasiswa Trisakti, Wiranto pun terkesan sengaja ‘buying time’ dengan tidak mengusut permasalahan ini secara cepat?

Akibatnya, dakwaan kembali ke PS yang jadi bulan-bulanan opini publik, dicurigai sebagai orang di balik penembakan itu. Meski tidak sedikit sekali keunikan terhadap dakwaan ini, tetapi fitnah sudah menjangkau sasaran, dan sekali lagi PS terlanjur menjadi pesakitannya. Tuduhan menunjukkan Prabowo di balik penembakan, dengan konspirasi anggota kopasus menggunakan seragam Polri sebagai pelaku penembakan snipper. Teori konspirasi ini tak pernah terbukti sebab peluru snipper diatas 7 mm & proyektil peluru tertanam di korban kaliber 5,56 mm. Sementara korban dipilih secara acak. Kalau snipper bakal memilih contohnya pemimpin demo atau target pilihan.

Lima hari sesudah insiden Trisakti, PS datang ke lokasi tinggal Herry Hartanto. Di bawah Al Qur’an dia bersumpah. Di depan Syahrir Mulyo Utomo orang tua korban; Demi Allah saya tidak pernah menyuruh pembantaian mahasiswa.

Perihal keterlibatan PS atas penembakan mahasiswa Trisakti, tanggal 14 terjadi pertemuan di Makostrad atas inisiatif Setiawan Djodi. Pertemuan antara PS & figur masyarakat antara lain; Adnan Buyung Nasution, Setiawan Djodi, Fahmi Idris, Bambang Widjoyanto (sekarang pimpinan KPK). 

Dalam pertemuan tersebut PS ditanya mengenai keterlibatannya, dia menjawab: Demi Allah saya tidak terlibat, saya di set-up. Berdasarkan keterangan dari Buyung tampak jujur.

Peristiwa selanjutnya semakin memperkuat ketidakterlibatan PS atas peristiwa penembakan mahasiswa tersebut. Dan Puspom ABRI Sjamsu Djalal menghadapi kendala memaksa Kapolri Dibyo Widodo untuk memberikan anggotanya yang dicurigai terlibat. Di sinilah peran Wiranto terlihat. 17 hari sesudah insiden tersebut berlalu, barulah Wiranto memanggil Dibyo dan menyuruh untuk serahkan anggota. 

Itu juga anggota di berikan ke Polda, bukan ke POM ABRI, sebenarnya Polri saat tersebut masih menjadi unsur ABRI dan Pangabnya ialah Wiranto. Sementara senjata sebagai barang bukti baru di berikan tgl 19 Juni 98, nyaris satu bulan semenjak peristiwa terjadi. Lalu pada tahun 2000, uji balistik di Belfast, Irlandia memperlihatkan bahwa peluru berasal dari anggota Polri unit Gegana.

Siapa bahwasannya di balik peristiwa itu? Siapa yang memberi perintah? Jelas bukan PS yang sebagai Pangkostrad tidak punya jalur komando ke Polri. Bagaimana dengan dakwaan PS sebagai benak di balik kerusuhan Mei ’98? Benarkah dia yang bertanggung jawab atas peristiwa tersebut? Atau pulang lagi beliau dikorbankan dampak proses perebutan dominasi terselubung salah satu para elit militer ketika itu? Apakah benar kerusuhan itu terjadi sebab spontanitas atau ‘crime by omission’ (kejahatan sebab pembiaran) atau bahkan ‘terror by design’?

Mari anda kembali ke jaman yang tidak mengenakkan itu. Kadang untuk menggali kebenaran sejarah kita perlu ‘mesin waktu’. Kita pun membutuhkan testimoni semua pelakunya yang ketika ini masih hidup bahkan sedang berkuasa. Sedikit dari anda yang memahami apa peran SBY dalam proses pergantian dominasi saat itu, sebenarnya beliau juga lumayan berperan. Nanti akan anda bahas.

Kembali ke bulan Mei ’98, sebagaimana menjadi keyakinan umum bahwa penembakan mahasiswa Trisakti menyebabkan terjadinya kerusuhan besar-besaran. Benarkahkah demikian? Bukti-bukti mengindikasikan bahwa kerusuhan Mei ’98 tersebut bukanlah spontanitas kemarahan warga dampak peristiwa Trisakti. Adakah rekayasa pihak tertentu atau minimal pembiaran sampai-sampai peristiwa itu dapat terjadi? Mari anda lihat secara bening bukti-bukti yang ada.




Satu peristiwa yang dapat dijadikan kunci keterlibatan Wiranto pada peristiwa tersebut ialah kepergiannya ke Malang ketika Ibukota sedang genting-gentingnya. Sebab Wiranto telah tahu bakal ada kerusuhan di Ibukota, namun tetap bersikukuh guna pergi ke Malang. Acara di Malang ialah serah terima PPRC dari Divisi I ke Divisi II, di mana Wiranto menjadi Inspektur upacaranya. 

Sebenarnya itu ialah acara teratur yang dapat diwakilkan. Bayangkan, guna serah terima Pangkostrad saja dia dapat berhalangan hadir. Bagaimana barangkali dalam situasi Ibukota genting, dia sebagai pemegang kunci komando lebih memilih jadi Inspektur upacara acara seremonial laksana itu? Sangat tidak dapat diterima akal sehat!

Apalagi menilik tanggal 13 Mei malam Wiranto memimpin rapat Garnisun Jakarta guna menanyakan kondisi terakhir. Lebih memunculkan kecurigaan lagi bahwa bahwasannya Kasum TNI Fahrur Razi saat tersebut sudah ditunjuk Pangkostrad PS menjadi Inspektur upacara di Malang. Tetapi sekonyong-konyong dipungut alih oleh Wiranto. Suatu kebetulan atau kesengajaan?

Mungkinkah Wiranto sebagai Pangab tidak tahu menahu situasi Jakarta? Dalam situasi Ibukota terjadi kerusuhan, Wiranto justeru pergi ke Malang dengan menyuruh komandan-komandan laksana Danjen kopasus, komandan Marinir, dan lain-lain.

Lebih memunculkan kecurigaan lagi, bahwasannya PS telah berulang kali menghubungi Wiranto untuk mengurungkan kepergiannya. Wiranto membalas “Show must goon”. Ini serupa dengan Soeharto ketika tahu bakal gerakan 30 September, tetapi sengaja tidak mengerjakan tindakan apapun guna mencegahnya. Sebelumnya, ketika situasi kian mengarah rusuh 12 Mei 1998, Panglima TNI Wiranto tidak menyuruh pasukan guna berada di Jakarta. Atas permintaan Pangdam Jaya yang mendapat perintah dari Mabes ABRI, Pangkostrad PS lantas membantu pengamanan Ibukota.

Pangkostrad PS lantas membantu Pangdam Jaya dengan menyebabkan pasukan dari Karawang, Cilodong, Makasar dan Malang untuk tolong Kodam. Tapi sekali lagi Wiranto tidak inginkan memberi pertolongan pesawat hercules sampai-sampai PS menyewa sendiri pesawat garuda dan mandala. Seharusnya andai negara dalam suasana genting laksana itu, Panglima wajib memungut alih komando dan secara jasmani wajib sedang di lokasi. 

Tapi yang terjadi malah tidak tampak sedikitpun itikad baik Wiranto untuk menangkal terjadinya chaos yang menelan korban sampai ribuan orang tersebut. Anehnya malah belakangan kubu Wiranto yang membuang kesalahan untuk PS yang dirasakan mengakibatkan kerusuhan itu.
Bukankah Wiranto sudah melangsungkan rapat Garnisun tanggal 13 Mei guna menanyakan kondisi terakhir?
Apakah Zaki Anwar Makarim sebagai ketua Badan Intelijen ABRI tidak pernah mengingatkan Wiranto bakal ada kerusuhan?
Bukankah PS sendiri telah mengingatkan Wiranto bakal terjadi kerusuhan dan mencegahnya pergi ke Malang?
Mengapa Wiranto tidak bergeming?
Lantas apa sebetulnya tujuan Wiranto menyusun Pam Swakarsa?
Pam Swakarsa ini rencananya akan digunakan sebagai perlawanan kalangan sipil terhadap demo yang semakin menjadi-jadi ketika itu. Namun belakangan dicurigai bahwa malah Pam Swakarsa inilah di antara penyulut kerusuhan Mei tersebut. 

Jauh sebelum peristiwa Mei terjadi, mantan Kakostrad Kivlan Zein menyatakan bahwa dialah yang diperintahkan Wiranto untuk menyusun Pam Swakarsa.
Mengapa Wiranto menampik permohonan pertolongan Hercules PS sampai-sampai dia mesti menyewa sendiri pesawat Garuda dan Mandala? Mengapa ketika PS mengerahkan pasukan untuk berjuang menghentikan penjarahan ‘sistematis’ toko-toko, malah Panglima TNI melewati Kasum Fahrur Razi justeru melarang pengerahan pasukan untuk menolong Kodam Jaya? Mengapa panser-panser dan pasukan yang telah siap saat tersebut tidak dapat bergerak sebab menunggu perintah yang tak kunjung datang? Keragu-raguankah atau kesengajaan? Yang jelas akibatnya ribuan nyawa melayang sia-sia, ratusan perempuan diperkosa, aset-aset individu dibumihanguskan!



Bukti beda semakin mengarah untuk Wiranto sebagai dalang bahwasannya dari kerusuhan Mei ’98 dari pernyataan mantan Ka Puspom ABRI Sjamsu Djalal. Melihat situasi Ibukota yang kian tidak terkendali, beliau menganjurkan untuk menerapkan jam malam, tetapi Wiranto tidak bergeming. Artinya terdapat lebih dari satu orang yang memberi peringatan untuk Wiranto ketika itu, Jadi keputusannya berangkat ke Malang ialah bagian dari ‘rencana’. Makin terkuak di sini bahwa PS yang malah berupaya menyelamatkan situasi justeru dijadikan domba hitam sebagai pelaku kudeta.

Pertanyaan selanjutnya merupakan, benarkah kerusuhan Mei tersebut murni spontanitas penduduk atau sebab rekayasa dalam kaitan perebutan dominasi saat itu?
Mengenai pembentukan Pam Swakarsa, Kivlan Zein telah memberi testimoni bahwa itu ialah bentukan Wiranto, dia yang ditugasi. Perintah pembentukan Pam Swakarsa diserahkan oleh Wiranto. Dia memanggil Kivlan Zein guna meminta dana dari Setiawan Djodi. Pertemuan ini ditata oleh Jimmly Asshidiqie. Dalam pertemuan tersebut, Wiranto menuliskan ini perintah Habibie. Jimmly akrab dengan Habibie dalam ICMI.

Kerusuhan yang terjadi sebab spontanitas seringkali meluas dengan menjalar, tidak serempak dibuka di semua penjuru kota dalam masa-masa yang bersamaan. Satu-satunya jawaban yang dapat diterima akal sehat ialah bahwa kerusuhan tersebut terjadi ‘by design’ dibuka menurut komando pihak-pihak tertentu.
Mengapa pada pagi hari tanggal 14 Mei terdapat pasukan dari Solo diterbangkan ke Jakarta dan tiba di Halim?

Di ketika yang sama, kerusuhan terjadi bersamaan antara Jakarta dan Solo. Semua terjadi pada pagi hari di masa-masa yang serupa bersamaan, tidak terdapat jeda. Seolah-olah mengisyaratkan bahwa kerusuhan di kedua kota ini telah direncanakan matang sebelumnya dan di bawah komando yang sama. Di ketika massa mulai menjarah di Jakarta, di ketika yang sama kejadian serupa terjadi di Solo. Modusnya sama persis!
Jika kerusuhan tersebut spontanitas, mengapa dibuka secara serempak di sekian banyak  penjuru Jakarta sekaligus Solo?
Di di antara pertokoan, ada pernyataan seorang ibu yang menggali anaknya yang ikut masuk ke Jogja Plaza karena diajak seseorang. Tapi dilantai 2 ditampar & diajak keluar dan akhirnya terbit sebelum pintu diblokir dari luar? Kita tahu kesudahannya Jogja Plaza dibakar.
Siapakah mereka itu?
Mungkinkah mahasiswa atau warga urban sengaja memasukkan massa ke dalam gedung kemudian membakarnya dari luar?
Atau terdapat pihak tertentu yang sengaja memobilisasi massa agar terjadi situasi chaos yang memungkinkan pihak-pihak tertentu ambil peranan?


Sebagaimana yang anda ketahui selanjutnya, situasi chaos tersebut sendiri kesudahannya mempercepat proses jatuhnya Soeharto dari tampuk kekuasaan.
Lalu siapakah yang diuntungkan dari jatuhnya Soeharto? Apakah Wiranto cs atau PS? Yang jelas sesaat sesudah lengsernya Soeharto, Wiranto sebagai Pangab dengan mudahnya menghancurkan karir militer PS.
Dengan tidak meminimalisir rasa hormat untuk aktivis mahasiswa 98’, kami mesti ucapkan bahwa bahwasannya kejatuhan Soeharto bukan sebab demo. Tetapi lebih sebab pengkhianatan semua elit, baik sipil maupun militer yang mana mereka bahwasannya bagian dari kroni Soeharto sendiri. Peristiwa jatuhnya Soeharto dari kekuasaannya tersebut sendiri lebih tepat disebutkan hasil dari suatu kudeta halus (soft coup), yang memanfaatkam demonstrasi mahasiswa yang merebak di mana-mana sebagai ‘trigger’nya.

Rupanya dalam keadaan genting jatuhnya kekuasan Soeharto tersebut diwarnai pula oleh rivalitas yang hadir ke permukaan salah satu para perwira ABRI. Akibat lemahnya kepemimpinan Wiranto sebagai Pangab diperbanyak suasana yang tidak menentu, setiap perwira berjuang cari guna atas kondisi tersebut. Para perwira berjuang ‘berinvestasi’ pada masa mendatang masing-masing, paling tidak menyelamatkan posisi mereka masing-masing. Pada saat tersebut terlihat jelas di tubuh ABRI sendiri tidak solid di bawah satu komando. Masing-masing punya kegiatan sendiri-sendiri dan saling curiga satu sama lain.

Salah satu contohnya ialah adanya siaran pers dari Puspen ABRI menjelang berakhirnya dominasi Soeharto. Siaran pers yang walau ditentang langsung oleh Wiranto tetapi turut mempercepat proses lengsernya Soeharto. Di mana di antara isi dari rilis tersebut ialah dukungan terhadap sikap PBNU yang menyokong Presiden Soeharto lengser keprabon. Sebenarnya tersebut bukan adalahrilis sah ABRI sebab tidak gunakan kop surat dan tidak ditanda tangani. Berdasarkan keterangan dari Makodongan, siaran pers sokongan terhadap sikap PBNU itu diciptakan oleh Mardianto dan Kasospol ketika itu, SBY !

Meski tengah malam tersebut juga Wiranto membangunkan semua perwira untuk unik rilis tersebut dari semua media massa supaya tidak diterbitkan. Namun telah terlanjur beredar & Soeharto yang tahu mengenai ini semakin kehilangan perspektif terhadap situasi lapangan, khususnya mengenai sokongan ABRI. Kejadian ini semakin memperburuk hubungan PS dan Wiranto sebab dia memandang Prabowolah yang melaporkan ini ke Presiden.

Tanggal 18 Mei, Harmoko yang tidak jarang kali menjilat Soeharto kesudahannya menjadi Brutus dengan meminta beliau secara bijaksana dan budiman untuk mundur. Sikap Harmoko ini lumayan mengejutkan menilik keberadaannya sebagai Ketua DPR/MPR ialah semata-mata guna mengamankan dominasi Soeharto. Sebelumnya dia tidak jarang kali langganan dipilih sebagai menteri oleh Soeharto. Bisa disebutkan dia mendapat  segala-galanya sebab Soeharto. Namun karena tekanan mahasiswa & figur masyarakat kesudahannya dia memilih untuk mengamankan diri sendiri. Namun begitu pengakuan pimpinan DPR/MPR tersebut disambut gegap gempita oleh mahasiswa yang menempati gedung DPR & masyarakat semua Indonesia, namun kegembiraan tersebut tidak dilangsungkan lama sebab pukul 23.00 Wiranto mengucapkan bahwa ABRI menampik pernyataan Harmoko itu.

Melihat kondisi yang semakin tidak menguntungkan kekuasaannya, sebetulnya Pak Harto telah berniat mundur dari jabatannya. Namun dia hendak meyakinkan pasca mundurnya dia sebagai Presiden tidak terdapat chaos yang membuka peluang untuk militer guna berkuasa.

Tanggal 19 Mei, dibuatlah pertemuan dengan sejumlah tokoh masyarakat laksana Gus Dur, Nurcholis Madjid, Emha Ainun Nadjib, dll minus Amien Rais. Dalam pertemuan tersebut, Soeharto mengaku akan menyusun Kabinet Reformasi yang bakal menyiapkan pemilu. Sementara tersebut menjelang rencana Amien Rais yang akan mengoleksi massa di Monas tanggal 19 Mei, Wiranto adakan rapat di Mabes. Dalam rapat yang dihadiri semua perwira tinggi militer itu, kembali hadir perbedaan antara PS dan Wiranto. Dalam rapat tersebut Wiranto menuliskan bahwa perintah yang dibuat ialah mencegah masuknya pendemo dengan segala teknik (at all cost).
PS bertanya berulang-ulang apa maksud perintah itu?
Apakah akan dipakai peluru tajam?
Tidak dibalas dengan jelas oleh Wiranto.

Kivlan Zein melangsungkan tank dan panser dengan perintah “lindas saja mereka yang memaksa masuk Monas!”. Kivlan Zein meminta PS supaya Amien Rais mengurungkan rencana demo sejuta umat di Monas. Daripada saya dimusuhi umat Islam, lebih baik saya tangkap Amien Rais, kata Kivlan. Akhirnya Amien Rais batalkan rencana demo di Monas.
Saat menghadapi Habibie PS berkata,
Pak, Bapak sepuh barangkali akan lengser. Siapkah kamu menggantikannya?

Selanjutnya PS meminta Habibie guna mempersiapkan diri. Disini tampak bahwa Prabowo merasa tidak punya masalah dengan Habibie. Dan andai kita baca ulang berita-berita media jauh sebelumnya, pun tampak jelas hubungan kedua figur ini paling akrab. Berulang kali PS mengucapkan kekagumannya pada Habibie, begitu pun sebaliknya.

PS yang sukses meredakan kondisi merasa bakal dapat pujian. Maka datanglah ia ke Cendana. Tapi lacur, di situ telah ada kumpulan Wiranto yang duduk bersama-sama dengan Soeharto dan putera-puterinya. Rupanya di situ Wiranto ‘mengadukan’ mengenai manuver PS yang menunjukkan dia runtang runtung dengan Habibie dan semua aktivis.

 Saat dia tiba, Mamiek langsung menghardik PS dengan kasar seraya mengacungkan telunjuk melulu satu inci dari hidung muka PS seraya berkata: Kamu pengkhianat! Jangan injakkan kakimu di lokasi tinggal saya lagi!. PS terbit menunggu seraya bilang, Saya perlu penjelasan. Titiek istrinya hanya dapat menangis, kemudian dia pulang.

Saat tersebut sesungguhnya PS telah dikalahkan, kalah oleh lobby dan pendekatan Wiranto yang meyakinkan. Dalam situasi gamang seperti tersebut memang Soeharto paling rentan menerima informasi yang dipelintir. Hal yang sama bakal terulang berpulang kepada Habibie. Kali ini Wiranto sendiri mengakui terdapat informasi yang salah diciduk Habibie dari dirinya.

Sementara tersebut Habibie yang merasa dalam bahaya dengan rencana pembentukan Kabinet Reformasi menerbitkan kartu As-nya. Dia dan 14 menteri Ekuin di bawah Ginandjar Kartasasmita mengucapkan keberatannya guna menjadi unsur dari Kabinet Reformasi. Soeharto merasa benar-benar terpukul atas kejadian terakhir ini sebab merasa ditinggalkan. Apalagi salah satu mereka terdapat yang dirasakan sebagai orang-orang yang dia ‘selamatkan’. Malam tersebut Soeharto tampak gugup & bimbang. Suatu kejadian langka. Namun di saat-saat sarat kekecewaan itu, muncul sahabat-sahabat sejati yang mengindikasikan kesetiaannya. Malam itu muncul di cendana semua mantan wapres mengucapkan dukungannya, yaitu: Umar Wirahadikusuma, Sudharmono, Try Sutrisno.

Pukul 23.00 Soeharto memanggil PS, Saadilah Mursyid dan Wiranto. Beliau mengucapkan bahwa kelak akan serahkan dominasi pada Habibie. Esok paginya, Harmoko, Syarwan Hamid, Abdul Gafur, Fatimah Ahmad, Ismail Hasan Metareum mendatangi Soeharto di ruang Jepara.
Ada dokumen beda lagi?
Tidak Pak”, jawab Harmoko.
Baik kalian tunggu saja di sini, saya bakal laksanakan pasal 8 UUD 45.
Di Credential Room Soeharto bertemu Habibie namun dia melengos. Soeharto paling sakit hati dengan siswa kesayangannya ini. Selesai mengucapkan pidato pengunduran dirinya, dia menyalami Habibie & pulang ke ruang Jepara. Kepada semua pimpinan DPR/MPR tersebut dia berkata,
Saya telah bukan Presiden lagi.
Mbak Tutut sembab matanya sebab menangis. Harmoko melongo.


Pagi itu ialah pertemuan terakhir Soeharto dan Habibie. Bahkan ketika kritis menjelang ajalnya pun, Habibie dilarang mendatangi Soeharto. Hubungan Soeharto & Habibie ialah hubungan panjang dua insan yang sukses menjadi pemimpin negeri ini. Soeharto telah mengenal Habibie semenjak Habibie masih anak-anak. Bahkan ketika ayah Habibie meninggal, Soeharto-lah yang menyolatkannya. Soeharto-lah yang menutupkan mata ayah Habibie ketika meninggal dunia. Bahkan dalam kitab biografinya, Soeharto tidak segan-segan menunjukkan keyakinan & rasa sayangnya terhadap Habibie. 

Soeharto pula yang mengirim utusan guna menjemput Habibie di Jerman guna kembali ke Indonesia. Kita belajar dari sini. bagaimana demi kedudukan, hubungan umat insan yang begitu dalam dapat dikorbankan
Pukul 23 malam PS dan Muhdi bertemu dengan Habibie di kediamannya guna memberi sokongan pada Presiden baru. Namun keesokannya pada tanggal 22 Mei, berlalu Shalat Jumat PS mendapat kabar mengejutkan, laksana petir di siang bolong. PS di Makostrad ditelpon oleh Mabes AD, diminta mencopot benderanya. 

Perintah tersebut tak lain dengan kata lain bahwa jabatannya dicopot. PS ingat ucapan Habibie jauh sebelumnya,
Prabowo, kapan pun anda ragu temui saya, tidak boleh pikirkan protokoler!
Maka PS mendatangi Habibie yang telah menjadi Presiden dan berkata:
Ini penghinaan untuk keluarga saya dan family mertua saya.
Habibie menjelaskan bila dia menemukan laporan dari Pangab bahwa terdapat gerakan pasukan Kostrad mengarah ke Jakarta, kuningan dan istana. PS mohon paling tidak 3 bulan di Kostrad. Habibie menolak,
Tidak, hingga matahari tenggelam Anda mesti memberikan semua pasukan!

Dari sini pulang terlihat, guna kedua kalinya PS diungguli oleh lobby & pendekatan Wiranto. Kelak, Wiranto sendiri mengakui bahwa ada bisa jadi informasi yang diserahkan diterima secara salah oleh Habibie. Namun kesalahpahaman apapun itu, PS telah terlanjur menjadi pihak yang dirugikan. Hancurnya karir militer yang begitu gilang gemilang. Kita tidak pernah tahu apakah baik Soeharto maupun Habibie sama-sama salah menafsirkan informasi yang dikatakan Wiranto. Atau memang terdapat kesengajaan mengerjakan misinformasi terhadap PS menilik persaingan internal ABRI ketika itu.
Semoga meningkatkan wawasan & jadi pelajaran untuk kita semua.
Semoga dapat cukup menyadarkan kita guna tidak terlalu gampang percaya pada pandangan umum & tidak jarang kali bersikap kritis |

Sumber:
http://wikipediasangthothon.blogspot.com/2013/10/perang-jenderal-wiranto-vs-prabowo.html
https://www.facebook.com/groups/bang.ardhi.for.president2014/doc/510216585696383/
http://mugiyonobk.multiply.com/reviews/item/13
http://mugiyonobk.multiply.com/reviews/item/4

Comments

Popular posts from this blog

DON HASMAN SANG FOTOGRAFER PENJELAJAH

Siang itu, Kamis, 19 April 2018, Dungus Forest Park Madiun kedatangan tamu luar biasa spesial: DON HASMAN. Masyarakat awam, utamanya di daerah, mungkin tidak banyak yang tahu siapa Don Hasman. Bahkan Mas Herutomo, yang sedang bergulat menyempurnakan gallery ranting di destinasi wisata hutan itu, hanya terkesima oleh kehadiran pria berusia 78 tahun yang menyalaminya dengan hangat. Don Hasman memang lebih dikenal karya etnofotografinya dibanding wajahnya. Bukan hanya di Indonesia, karya fotografi Don Hasman bahkan dikenal dunia! Maklum, sepanjang usianya, Don Hasman telah mendaki  banyak gunung di dunia, menjelajah suku-suku pedalaman.  Dia adalah orang Indonesia pertama yang mendaki Himalaya. Pada 1978, dia menaklukkan puncak Nuptse (7.861 mdpl). Dua tahun sebelumnya, Don Hasman menaklukkan Kala Patthar (5.644) dalam perjalanan menuju Everest Base Pria kelahiran Cirebon, 7 Oktober 1940, itu memang terkenal sebagai penjelajah. Pada  1986, Oom Don berhasil...

Hotel Tentrem TRADE MARK JAWA HOTEL BINTANG LIMA PILIHAN OBAMA

Perusahaan besar, apalagi hotel bintang lima, lazimnya memilih trade mark yang gagah, elite dan kebarat-baratan. Oleh karena itu, keputusan Irwan Hidayat, Presdir Sido Muncul, untuk menamai hotel bintang lima miliknya sebagai Hotel Tentrem, hemat saya, terbilang "berani" menabrak kelaziman.  Tapi, Mas Irwan yang saya kenal sejak 1992, memang seorang pengusaha visioner dan berpikiran otentik--sehingga sering dibilang "nyleneh". Ketika produk minuman energi pesaingnya gencar menayangkan iklan yang dibintangi olahragawan internasional berhonor miliaran, misalnya, Mas Irwan justru merilis iklan Kuku Bima produk Sido Muncul yang dibintangi Chris John, petinju nasional yang kemudian menjadi juara tinju dunia. Keputusan "nyleneh" Mas Irwan "menabrak" bintang iklan internasional dengan menampilkan bintang iklan nasional, tentu butuh keberanian mengambil risiko. Tak hanya itu, Mas Irwan juga menerima tantangan saya untuk menyandingkan Chr...

Televisi NASIB HIBURAN GRATIS RAKYAT KECIL Harry Tjahjono

Tahun 1989, ketika TV swasta belum ada, saya sudah menulis sinetron untuk TVRI. Tahun 1992, saya mengelola tabloid Bintang Indonesia bersama Yanto Bhokek, Erwin Arnada, Gunawan Wibisono, Ricke Senduk dan kemudian Arswendo Atmowiloto. Saya menggantikan posisi Bujang Pratiko, pemimpin redaksi tabloid televsi, film dan hiburan itu. Ketika itu RCTI baru lahir, disusul TPI. Dan Bintang Indonesia mengisi kekosongan penerbitan pers tentang televisi setelah tabloid Monitor dibredel dan Arswendo dipenjarakan. Monitor dan Arswendo merupakan media dan sastrawan jurnalis yang (pertama kali) secara spesifik, intens dan serius mengulas dan mengkritisi  produk, produser, penyelenggara dan artis pendukung acara televisi. Tidak ada program televisi yang luput dari pengamatan Monitor dan kritik Arswendo. Prestasi stake-holder televisi pun selalu diapresiasi Monitor dan dipujikan Arswendo yang menciptakan dan memopularkan istilah Sinetron, akronim dari Sinema Elektronik. Losmen, Jendel...