Senja pamitan. Langit tembaga menggelap. Dengan perut lapar dan kerongkongan garing saya mengayun langkah ke sebuah warung di tikungan pertigaan itu. Kebetulan tidak ada pembeli, sehingga pesanan teh tawar hangat dan sepiring nasi sayur, tempe, telor dicabein, segera terhidang. Ketika saya sedang enak bersantap, datang seorang laki-laki berwajah sangar, memesan menu yang sama dan segera melahapnya. Usai makan, saya memesan kopi dan mencomot sebatang rokok ketengan yang disediakan di toples berikut koreknya. Nikmat benar rasanya. Usai makan, laki-laki itu juga pesan kopi, mencomot sebatang rokok dan melengkapi kenikmatan hidupnya. "Saya ini bingung, heran, juga jengkel, kenapa ada orang yang mengaku pintar tapi kok ngomong soal dikotomi Partai Setan dan Partai Tuhan," katanya ujug-ujug membuka percakapan. "Pasti ada alasannya. Ada argumentasinya," sahut saya sekadar bersopan-santun. "Orang yang mengaku pintar, apalagi politisi, pasti puny...
Selasa, 12 April 2018, di Waroeng Kopi, Grand Indonesia, sambil ngopi dan makan siang, saya dan Butet Kartaredjasa "terkondisikan" ngobrol serius soal drama dengan Cobina Gillit, Ph.D. Maklum, Cobina adalah seorang dramaturg, ahli seni drama, penulis dan peneliti teater, juga Assistant Professor Theatre and Performance, State University of New York. Selain mengajar dan bermain drama, sejak 30 tahun lalu Cobina meneliti eksistensi dan pergulatan teater dan dramawan Indonesia sejak rezim Orde Baru sampai era reformasi. Yang diteliti antara lain Bengkel Teater Rendra, Teater Kecil Arifin C Noor, Teater Koma Riantiarno, Teater Mandiri Putu Wijaya sampai Teater Gandrik Butet Kartaredjasa. Hasil penelitiaannya selain jadi disertasi doktornya juga diterbitkan sebagai seri buku Antology Drama Indonesia. Demikian seriusnya dalam meneliti drama Indonesia, sejak 30 tahun yang lalu Cobina bahkan jadi anggota Teater Mandiri. Cobina menelisik "daya hidup" teater Ind...