Skip to main content

Warung Rakyat Akung Bondhet SAYUR LODEH, BOTHOK DAN PEPES KEMANGI YANG INUK TINUN




Siang tadi, saya dan istri diundang Akung Bondet syukuran pembukaan Warung Rakyat di Jalan Kapuas 35, Taman, Madiun. Selain teman dekat dan kaum ibu "fans setia" serta anak-anak TK Nasional "murid opera" Akung, juga hadir Ririn Kolektor Jangkrik dan Inda Raya Saputri, Calon Wakil Walikota No.1.


Syukuran sederhana ini hanya dimaksudkan untuk memberi "tenger" bahwa mulai besok Warung Rakyat Akung Bondhet siap melayani pembeli Cwi Mi, Sego Tepong, Tahu Kwalik, Papeda Papua, sayur lodeh, sayur asem berikut bothok Tempe/jagung, pepes kemangi, ayam goreng dan jenis masakan lain dengan harga rakyat.


Karena baru sebagai contoh, para undangan syukuran disuguhi sayur lodeh, sayur ayem, ayam goreng, bothok tempe/jagung, pepes kemangi, sambel mentah dan tentu saja tahu kwalik. Sebetulnya, "Juga ada cwi m. Tapi berhubungan sawinya ketinggalan jadinya batal dihidangkan," kata Akung disambut tawa.


Sebagai "penikmat kuliner" yang khusus didatangkan Akung dari Jakarta, tak bisa lain saya harus mengakui kelezatan sayur lodeh, bothok dan pepes kemangi olahan Uti Bondhet. Saya rasa, ketiga masakan itu layak untuk disebut inuk tinun---artinya lebih dari lezat dan nikmat. Meski sudah menyantap sayur lodeh, saya masih tergoda sayur asem daun ubi jalar diseling krai dan irisan tomat. Lauknya lagi-lagi bothok dan pepes kemangi. Tentu saja saya lengkapi sambel mentah yang sedap.


Begitu sayur asem bersambal mentah yang "terkontaminasi" bothok dan pepes kemangi menyentuh lidah..., amboii..., inuk tinun!! Saya pikir, jenis masakan khas Madiun yang inuk tinun semacam inilah yang membuat saya selalu ingin pulang kampung, bahkan berniat pensiun di Madiun. Sebab, di kota kelahiran tercinta ini, saya tidak hanya dimanjakan nostalgia tapi juga dikenyangkan beragam makanan inuk tinun dengan harga rakyat pula.


Setelah pamit dalam keadaan puas dan kenyang, sepanjang berjalan kaki pulang berdua istri, kami asyik membahas resep bothok dan pepes kemangi Uti Bondhet. Apapun resepnya, bagaimana mengolahnya, akhirnya kami berdua sepakat bulat pada konklusi tunggal, yakni: INUK TINUN.


Sungguh sebuah  konklusi yang membuat saya dan istri gembira...

Comments

Popular posts from this blog

DON HASMAN SANG FOTOGRAFER PENJELAJAH

Siang itu, Kamis, 19 April 2018, Dungus Forest Park Madiun kedatangan tamu luar biasa spesial: DON HASMAN. Masyarakat awam, utamanya di daerah, mungkin tidak banyak yang tahu siapa Don Hasman. Bahkan Mas Herutomo, yang sedang bergulat menyempurnakan gallery ranting di destinasi wisata hutan itu, hanya terkesima oleh kehadiran pria berusia 78 tahun yang menyalaminya dengan hangat. Don Hasman memang lebih dikenal karya etnofotografinya dibanding wajahnya. Bukan hanya di Indonesia, karya fotografi Don Hasman bahkan dikenal dunia! Maklum, sepanjang usianya, Don Hasman telah mendaki  banyak gunung di dunia, menjelajah suku-suku pedalaman.  Dia adalah orang Indonesia pertama yang mendaki Himalaya. Pada 1978, dia menaklukkan puncak Nuptse (7.861 mdpl). Dua tahun sebelumnya, Don Hasman menaklukkan Kala Patthar (5.644) dalam perjalanan menuju Everest Base Pria kelahiran Cirebon, 7 Oktober 1940, itu memang terkenal sebagai penjelajah. Pada  1986, Oom Don berhasil...

Hotel Tentrem TRADE MARK JAWA HOTEL BINTANG LIMA PILIHAN OBAMA

Perusahaan besar, apalagi hotel bintang lima, lazimnya memilih trade mark yang gagah, elite dan kebarat-baratan. Oleh karena itu, keputusan Irwan Hidayat, Presdir Sido Muncul, untuk menamai hotel bintang lima miliknya sebagai Hotel Tentrem, hemat saya, terbilang "berani" menabrak kelaziman.  Tapi, Mas Irwan yang saya kenal sejak 1992, memang seorang pengusaha visioner dan berpikiran otentik--sehingga sering dibilang "nyleneh". Ketika produk minuman energi pesaingnya gencar menayangkan iklan yang dibintangi olahragawan internasional berhonor miliaran, misalnya, Mas Irwan justru merilis iklan Kuku Bima produk Sido Muncul yang dibintangi Chris John, petinju nasional yang kemudian menjadi juara tinju dunia. Keputusan "nyleneh" Mas Irwan "menabrak" bintang iklan internasional dengan menampilkan bintang iklan nasional, tentu butuh keberanian mengambil risiko. Tak hanya itu, Mas Irwan juga menerima tantangan saya untuk menyandingkan Chr...

Televisi NASIB HIBURAN GRATIS RAKYAT KECIL Harry Tjahjono

Tahun 1989, ketika TV swasta belum ada, saya sudah menulis sinetron untuk TVRI. Tahun 1992, saya mengelola tabloid Bintang Indonesia bersama Yanto Bhokek, Erwin Arnada, Gunawan Wibisono, Ricke Senduk dan kemudian Arswendo Atmowiloto. Saya menggantikan posisi Bujang Pratiko, pemimpin redaksi tabloid televsi, film dan hiburan itu. Ketika itu RCTI baru lahir, disusul TPI. Dan Bintang Indonesia mengisi kekosongan penerbitan pers tentang televisi setelah tabloid Monitor dibredel dan Arswendo dipenjarakan. Monitor dan Arswendo merupakan media dan sastrawan jurnalis yang (pertama kali) secara spesifik, intens dan serius mengulas dan mengkritisi  produk, produser, penyelenggara dan artis pendukung acara televisi. Tidak ada program televisi yang luput dari pengamatan Monitor dan kritik Arswendo. Prestasi stake-holder televisi pun selalu diapresiasi Monitor dan dipujikan Arswendo yang menciptakan dan memopularkan istilah Sinetron, akronim dari Sinema Elektronik. Losmen, Jendel...