Inilah Fakta Sebenarnya Tentang Prabowo Subianto Yang Tidak Terungkap Media – Jika anda bicara mengenai sosok Prabowo Subianto, mungkin untuk yang tahu tentu akan di kaitkan dengan tragedi kerusuhan Mei 1998 dimana Prabowo Subianto menjadi di antara aktornya.
Itu yang di gemborkan media yang barangkali Anda tahu. Tapi tahukah kita bahwa sebetulnya faktanya tidak laksana itu, sebetulnya Prabowo Subianto lah yang di jadikan domba hitam dalam tragedi Mei 1998. kita penasaran ?, ayo kita simak ulasannya tentang kenyataan tentang Prabowo Subianto yang sebetulnya seperti yang ditayangkan oleh Kompas TV. Artikel ini lumayan panjang sekali, jadi harap dibaca dengan sabar dan cermat ya.
Fakta Prabowo Subianto
Jum’at 14 Maret 2014, Kompas TV menayangkan Prabowo Subianto dalam acara Aiman Dan…. Prabowo ialah salah satu nama yang maju dalam pemilihan presiden Republik Indonesia. Karena posisi presiden di RI, bahwasannya lebih berkuasa daripada presiden Amerika Serikat maupun Rusia, presiden RI mestilah yang terbaik dari yang ikut bertarung. Tulisan ini bukan sebagai kampanye, sebab saya bukan kader Partai Gerindra, namun melulu untuk mengulas tentang sosok Prabowo Subianto yang kontroversial dari sudut pandang yang tidak banyak berbeda. Tujuannya ialah agar masyarakat menemukan informasi yang menyeluruh dan berimbang mengenai calon pemimpin yang bakal dipilihnya tergolong Prabowo. Mengingat begitu krontroversial dan banyaknya disinformasi tentang tokoh yang satu ini.
Prabowo bermunculan di Jakarta 17 Oktober 1951. Beliau ialah mantan Danjen Kopasus (Komandan Jenderal Komando Pasukan Kuhusus), pengusaha sukses, politisi, dan calon presiden 2014. Prabowo ialah putra dari begawan ekonomi Indonesia, Soemitro Djojohadikusumo. Beliau pun cucu dari Raden Mas Margono Djojohadikusumo yang adalahanggota BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia) dan pun adalahpendiri Bank Nasional Indonesia (BNI). Dari silsilahnya terlihat bahwa Prabowo mempunyai “darah biru” elit pemimpin Indonesia. Bahkan jauh sebelum republik ini lahir.
Prabowo menikahi Titiek, putri Presiden Soeharto. Saat ini, Titiek sendiri menjadi calon anggota legislatif dari Partai Golongan Karya (Golkar). Keputusan yang terlihat prospektif saat tersebut namun menjadi blunder dalam hidupnya dikemudian hari. Dengan latar belakang family intelektual, Prabowo mewarisi kepintaran ayahnya. Beliau dikenal paling cerdas di sekolah maupun di AKABRI (Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia). Meski beliau ialah alumnus AKABRI (1974), tetapi tidak tidak sedikit yang tahu bahwa sesudah lulus SMA, Prabowo pun diterima di American School In London, Britania Raya.
Karirnya dibidang militer terbilang sangat berkilauan dan membanggakan. Karir militer Prabowo tergolong yang tercepat dalam sejarah ABRI (Angkatan Bersenjata Republik Indonesia). Prabowo bahkan sempat dinamakan sebagai “The Brightest Star”. Dialah jenderal termuda yang meraih 3 bintang pada umur 46 tahun.
Sebagai sesama orang militer, Prabowo dapat dianggap sebagai “antitesa” dari Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Mungkin sebab karir beliau yang tidak sedikit diisi dengan penugasan di satuan tempur. Meski sama-sama adalah“The Rising Star” di tubuh ABRI ketika itu, SBY lebih dikenal sebagai perwira intelektualnya ABRI. Berbeda dengan SBY yang ingin analitis dan berhati-hati dalam memungut keputusan, sebagai perwira lapangan Prabowo ingin cepat, take action. Saat keputusan sudah diciptakan Prabowo bakal menjalankannya dengan sarat “determinasi”. Beliau siap menanggung segala konsekuensinya.
Salah satu contohnya ialah perihal peristiwa penculikan aktivis yang telah mencoret nama baik dan menjadi penyebab kerusakan karir militernya. DKP (Dewan Kehormatan Perwira) yang menyelidiki permasalahan ini tidak pernah mngungkapkan hasil pemeriksaannya untuk publik. Tidak pun kepada Prabowo yang notabene menjadi tertuduhnya. Tampaknya Wiranto sengaja memungut manfaat supaya prasangka publik menghukum Prabowo lebih berat daripada “dosanya”. Meski Prabowo berikeras menuliskan tak pernah perintahkan. Namun beliau memungut alih tanggung jawab anak buahnya. “Saya ambil alih tanggung jawabnya.” Begitu kata beliau ketika itu. Sikap yang mesti ditunaikan mahal dengan hancurnya karir militer yang gilang gemilang, namun pun menunjukkan kualitas kepemimpinan Prabowo. Jika Prabowo benar bersalah, mengapa malah korban-korban penculikan laksana Pius L Lanang dan Desmond J Mahesa malah menjadi pengurus Partai Gerindra?
Meski begitu, kualitas kepemimpinan Prabowo malah sudah teruji di saat-saat sangat kritis yang pernah dirasakan negeri ini. Untuk mereka yang lelah dengan kepemimpinan yang lemah, lama memungut keputusan, tidak jarang kali terkesan ragu-ragu tampaknya Prabowo ialah jawabannya.
Untuk mereka yang muak dengan pemimpin yang sibuk selamatkan diri sendiri ketika ada masalah maka Prabowo ialah pilihan yang patut dipertimbangkan. Dibanding memilih mengorbankan anak buahnya, Prabowo memilih guna ambil alih tanggung jawab dan menanggung sendiri resikonya. Seorang kapten kapal yang baik bukanlah yang kesatu selamatkan diri ketika kapal tenggelam, tetapi malah yang terakhir. Seperti tampak dalam film Titanic, saat kapal telah mulai tenggelam, kapten kapal meyakinkan seluruh penumpang selamat, dan kesudahannya dirinya sendiri tidak berhasil selamat. Sayang, karir militer Prabowo yang gilang gemilang itu selesai dengan teknik yang tidak cukup mengenakkan. Bahkan dapat dikatakan memilukan.
Prabowo dapat dikatakan pihak yang diungguli dalam proses perebutan dominasi dan pengaruh di tubuh militer pada waktu kritis tahun 1998. Berbicara mengenai Prabowo anda tidak dapat lepas dari peristiwa kelam Mei 1998 yang mencoret nama bangsa Indonesia selamanya. Sebagai pihak yang kalah Prabowo menjadi “kambing hitam” dari seluruh kejadian tersebut. Seperti kata pepatah, tinta sejarah ialah milik pemenang. Ini pasti saja berpotensi menjadi pengganjal pencapresannya.
Stigma sebagai “penjahat kemanusiaan” tentu akan dimanfaatkan sebagai senjata lawan-lawan politiknya guna menjatuhkan Prabowo. Jika memang benar Prabowo ialah tokoh yang bertanggung jawab terhadap peristiwa tersebut maka dia telah menerima segala hukumannya. Bayangkanlah perasaan Prabowo yang karir gemilangnya di dunia militer yang begitu dicintainya tersebut harus berhenti dengan sejuta rasa malu dan aib. Lalu bagaimana andai semua tersebut tidak benar? Layakkah Prabowo tersandera oleh prasangka tanpa bukti? Lantas pantas pulakah bangsa Indonesia kehilangan peluang untuk dipimpin oleh putra terbaiknya?
Jauh sebelum peristiwa Mei 98 proses penghancuran nama baik Prabowo telah terjadi. Semua bermula dari rivalitas antara Prabowo dan Wiranto. Ketidak harmonisan Prabowo dan Wiranto memang sudah dilangsungkan sejak lama. Mungkin sebab latar belakang dua-duanya yang jauh berbeda.
Prabowo yang kosmopolitan ingin mempunyai pola pikir yang terbuka. Sementara Wiranto dengan latar belakang Jawa yang paling kental lebih tertutup. Namun Prabowo yang terbiasa dengan kompetisi terbuka semenjak kanak-kanak memandang rivalitas semacam tersebut sebagai urusan biasa dan tidak dijadikan personal. Berbeda dengan Wiranto yang berlatar belakang paling “Jawa Tradisional” itu, dia lebih serupa dengan Soeharto dalam menyikapi sebuah rivalitas. Lihat saja nasib yang menimpa pesaing-pesaing Soeharto yang mengganggu karir militer atau politiknya di masa lalu. Jika tidak mati, membusuk di penjara. Salah satu contohnya ialah kawan saja, Fadjroel Rachman, yang sempat meringkuk di Nusa Kambangan dan kehilangan teman-temannya. Fadjroel sendiri kesudahannya bebas saat Habibie menjadi presiden.
Indikasi ketidaksukaan Wiranto tampak dengan absennya beliau sebagai Pangab (Panglima ABRI) dalam acara serah terima Pangkostrad Letjen Soegiono untuk Prabowo. Begitu pun saat pemberhentian secara hormat Prabowo sebagai perwira militer. Beliau menanggalkan tanda-tanda pangkat Prabowo dengan satu tangan saja. Proses selesai secara paksanya karir militer Prabowo memang tidak dapat dilepaskan dari rivalitas perwira muda dan perwira tua. Prabowo sebagai cerminan perwira muda pasti saja menjadi sasaran tembak utama ketika itu.
Posisi Prabowo saat tersebut benar-benar terjepit. Di satu sisi dia ialah menantu penguasa yang sedang menjadi sasaran sentimen negatif rakyat. Di sisi lain dampak manuver Wiranto dkk, Soeharto yang masih punya pengaruh malah membencinya hingga ke ubun-ubun. Sampai-sampai untuk penggantinya Habibie, beliau mengucapkan pesan khusus guna “mengamankan” Prabowo. Bagaimana urusan tersebut dapat terjadi? Semua tidak terlepas dari peristiwa Mei yang mencekam itu. Peristiwa yang sampai kini masih menghantui republik ini.
Ada 3 dakwaan utama yang ditunjukkan kepada Prabowo, yaitu: Penculikan akitivis, penembakan mahasiswa Trisakti, dan dalang kerusuhan Mei 1998. Tidak satupun tuduhan itu yang terbukti. Seandainya Prabowo bersalah bukankah Pangab saat tersebut Wiranto? Bukankah sebagai panglima beliau yang seharusnya sangat bertanggung jawab?
Mengapa sampai saat ini Prabowo tidak pernah diberitahu mengenai hasil investigasi DKP sampai-sampai tidak dapat membela diri? Mengenai penembakan mahasiswa Trisakti, Wiranto pun terkesan sengaja ‘buying time’ dengan tidak mengusut permasalahan ini secara cepat. Akibatnya dakwaan kembali ke Prabowo, yang jadi bulan-bulanan opini publik, dicurigai sebagai orang dibalik penembakan itu. Meski tidak sedikit sekali keunikan terhadap dakwaan ini tetapi fitnah sudah menjangkau sasaran. Dan sekali lagi Prabowo terlanjur menjadi pesakitannya.
Tuduhan menunjukkan Prabowo di balik penembakan, dengan konspirasi anggota kopasus menggunakan seragam Polri sebagai pelaku penembakan snipper. Teori konspirasi ini tidak pernah terbukti, sebab peluru snipper diatas 7 mm dan proyektil peluru tertanam di korban kaliber 5,56 mm. Sementara korban dipilih secara acak. Kalau snipper bakal memilih contohnya pemimpin demo atau target pilihan. Lima hari sesudah insiden Trisakti, Prabowo datang ke lokasi tinggal Herry Hartanto. Di bawah Alquran dia bersumpah. Di depan Syaharir Mulyo Utomo orang tua korban, “Demi Allah saya tidak pernah menyuruh pembantaian mahasiswa.”
Quote:Perihal keterlibatan Prabowo atas penembakan mahasiswa Trisakti, tanggal 14 Mei terjadi pertemuan di Makostrad (Markas Komanda Staf Angkatan Darat) atas inisiatif Setiawan Djodi. Pertemuan antara Prabowo dan figur masyarakat, antara lain: Adnan Buyung Nasution, Setiawan Djodi, Fahmi Idris, Bambang Widjoyanto.
Dalam pertemuan tersebut Prabowo ditanya mengenai keterlibatannya. Prabowo menjawab, “Demi Allah saya tidak terlibat, saya di set-up.” Berdasarkan keterangan dari Buyung tampak jujur. Peristiwa selanjutnya semakin memperkuat ketidak terlibatan Prabowo atas peristiwa penembakan mahasiswa tersebut. Puspom ABRI Sjamsu Djalal menghadapi kendala memaksa Kapolri Dibyo Widodo untuk memberikan anggotanya yang dicurigai terlibat. Disinilah peran Wiranto terlihat.
17 hari sesudah insiden itu selesai baru Wiranto memanggil Dibyo untuk menyuruh untuk memberikan anggota. Itupun anggota di berikan ke Polda bukan ke POM ABRI. Padahal Polri saat tersebut masih menjadi unsur ABRI dan Pangabnya ialah Wiranto. Sementara senjata sebagai barang bukti baru di berikan tanggal 19 Juni 98. Hampir satu bulan semenjak peristiwa terjadi. Kelak tahun 2000, uji balistik di Belfast, Irlandia memperlihatkan bahwa peluru berasal dari anggota Polri unit gegana. Siapa bahwasannya dibalik pristiwa itu? Siapa yang beri perintah? Jelas bukan Prabowo yang sebagai Pangkostrad tidak punya jalur komando ke Polri. Dalam militer, garis komando benar-benar diterapkan. Bagaimana dengan dakwaan Prabowo sebagai benak dibalik kerusuhan Mei 98? Benarkah dia yang bertanggung jawab atas peristiwa tersebut? Atau pulang lagi beliau dikorbankan dampak proses perebutan dominasi terselubung diantara semua elit militer ketika itu? Apakah benar kerusuhan itu terjadi sebab spontanitas atau ‘crime by omission’ (kejahatan sebab pembiaran) atau bahkan ‘terror by design’ (teror yang didesain)?
SUMBER https://masawep.wordpress.com/2014/05/22/the-untold-prabowo-jenderal-yang-terbuang/
Itu yang di gemborkan media yang barangkali Anda tahu. Tapi tahukah kita bahwa sebetulnya faktanya tidak laksana itu, sebetulnya Prabowo Subianto lah yang di jadikan domba hitam dalam tragedi Mei 1998. kita penasaran ?, ayo kita simak ulasannya tentang kenyataan tentang Prabowo Subianto yang sebetulnya seperti yang ditayangkan oleh Kompas TV. Artikel ini lumayan panjang sekali, jadi harap dibaca dengan sabar dan cermat ya.
Fakta Prabowo Subianto
Jum’at 14 Maret 2014, Kompas TV menayangkan Prabowo Subianto dalam acara Aiman Dan…. Prabowo ialah salah satu nama yang maju dalam pemilihan presiden Republik Indonesia. Karena posisi presiden di RI, bahwasannya lebih berkuasa daripada presiden Amerika Serikat maupun Rusia, presiden RI mestilah yang terbaik dari yang ikut bertarung. Tulisan ini bukan sebagai kampanye, sebab saya bukan kader Partai Gerindra, namun melulu untuk mengulas tentang sosok Prabowo Subianto yang kontroversial dari sudut pandang yang tidak banyak berbeda. Tujuannya ialah agar masyarakat menemukan informasi yang menyeluruh dan berimbang mengenai calon pemimpin yang bakal dipilihnya tergolong Prabowo. Mengingat begitu krontroversial dan banyaknya disinformasi tentang tokoh yang satu ini.
Prabowo bermunculan di Jakarta 17 Oktober 1951. Beliau ialah mantan Danjen Kopasus (Komandan Jenderal Komando Pasukan Kuhusus), pengusaha sukses, politisi, dan calon presiden 2014. Prabowo ialah putra dari begawan ekonomi Indonesia, Soemitro Djojohadikusumo. Beliau pun cucu dari Raden Mas Margono Djojohadikusumo yang adalahanggota BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia) dan pun adalahpendiri Bank Nasional Indonesia (BNI). Dari silsilahnya terlihat bahwa Prabowo mempunyai “darah biru” elit pemimpin Indonesia. Bahkan jauh sebelum republik ini lahir.
Prabowo menikahi Titiek, putri Presiden Soeharto. Saat ini, Titiek sendiri menjadi calon anggota legislatif dari Partai Golongan Karya (Golkar). Keputusan yang terlihat prospektif saat tersebut namun menjadi blunder dalam hidupnya dikemudian hari. Dengan latar belakang family intelektual, Prabowo mewarisi kepintaran ayahnya. Beliau dikenal paling cerdas di sekolah maupun di AKABRI (Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia). Meski beliau ialah alumnus AKABRI (1974), tetapi tidak tidak sedikit yang tahu bahwa sesudah lulus SMA, Prabowo pun diterima di American School In London, Britania Raya.
Karirnya dibidang militer terbilang sangat berkilauan dan membanggakan. Karir militer Prabowo tergolong yang tercepat dalam sejarah ABRI (Angkatan Bersenjata Republik Indonesia). Prabowo bahkan sempat dinamakan sebagai “The Brightest Star”. Dialah jenderal termuda yang meraih 3 bintang pada umur 46 tahun.
Sebagai sesama orang militer, Prabowo dapat dianggap sebagai “antitesa” dari Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Mungkin sebab karir beliau yang tidak sedikit diisi dengan penugasan di satuan tempur. Meski sama-sama adalah“The Rising Star” di tubuh ABRI ketika itu, SBY lebih dikenal sebagai perwira intelektualnya ABRI. Berbeda dengan SBY yang ingin analitis dan berhati-hati dalam memungut keputusan, sebagai perwira lapangan Prabowo ingin cepat, take action. Saat keputusan sudah diciptakan Prabowo bakal menjalankannya dengan sarat “determinasi”. Beliau siap menanggung segala konsekuensinya.
Salah satu contohnya ialah perihal peristiwa penculikan aktivis yang telah mencoret nama baik dan menjadi penyebab kerusakan karir militernya. DKP (Dewan Kehormatan Perwira) yang menyelidiki permasalahan ini tidak pernah mngungkapkan hasil pemeriksaannya untuk publik. Tidak pun kepada Prabowo yang notabene menjadi tertuduhnya. Tampaknya Wiranto sengaja memungut manfaat supaya prasangka publik menghukum Prabowo lebih berat daripada “dosanya”. Meski Prabowo berikeras menuliskan tak pernah perintahkan. Namun beliau memungut alih tanggung jawab anak buahnya. “Saya ambil alih tanggung jawabnya.” Begitu kata beliau ketika itu. Sikap yang mesti ditunaikan mahal dengan hancurnya karir militer yang gilang gemilang, namun pun menunjukkan kualitas kepemimpinan Prabowo. Jika Prabowo benar bersalah, mengapa malah korban-korban penculikan laksana Pius L Lanang dan Desmond J Mahesa malah menjadi pengurus Partai Gerindra?
Meski begitu, kualitas kepemimpinan Prabowo malah sudah teruji di saat-saat sangat kritis yang pernah dirasakan negeri ini. Untuk mereka yang lelah dengan kepemimpinan yang lemah, lama memungut keputusan, tidak jarang kali terkesan ragu-ragu tampaknya Prabowo ialah jawabannya.
Untuk mereka yang muak dengan pemimpin yang sibuk selamatkan diri sendiri ketika ada masalah maka Prabowo ialah pilihan yang patut dipertimbangkan. Dibanding memilih mengorbankan anak buahnya, Prabowo memilih guna ambil alih tanggung jawab dan menanggung sendiri resikonya. Seorang kapten kapal yang baik bukanlah yang kesatu selamatkan diri ketika kapal tenggelam, tetapi malah yang terakhir. Seperti tampak dalam film Titanic, saat kapal telah mulai tenggelam, kapten kapal meyakinkan seluruh penumpang selamat, dan kesudahannya dirinya sendiri tidak berhasil selamat. Sayang, karir militer Prabowo yang gilang gemilang itu selesai dengan teknik yang tidak cukup mengenakkan. Bahkan dapat dikatakan memilukan.
Prabowo dapat dikatakan pihak yang diungguli dalam proses perebutan dominasi dan pengaruh di tubuh militer pada waktu kritis tahun 1998. Berbicara mengenai Prabowo anda tidak dapat lepas dari peristiwa kelam Mei 1998 yang mencoret nama bangsa Indonesia selamanya. Sebagai pihak yang kalah Prabowo menjadi “kambing hitam” dari seluruh kejadian tersebut. Seperti kata pepatah, tinta sejarah ialah milik pemenang. Ini pasti saja berpotensi menjadi pengganjal pencapresannya.
Stigma sebagai “penjahat kemanusiaan” tentu akan dimanfaatkan sebagai senjata lawan-lawan politiknya guna menjatuhkan Prabowo. Jika memang benar Prabowo ialah tokoh yang bertanggung jawab terhadap peristiwa tersebut maka dia telah menerima segala hukumannya. Bayangkanlah perasaan Prabowo yang karir gemilangnya di dunia militer yang begitu dicintainya tersebut harus berhenti dengan sejuta rasa malu dan aib. Lalu bagaimana andai semua tersebut tidak benar? Layakkah Prabowo tersandera oleh prasangka tanpa bukti? Lantas pantas pulakah bangsa Indonesia kehilangan peluang untuk dipimpin oleh putra terbaiknya?
Jauh sebelum peristiwa Mei 98 proses penghancuran nama baik Prabowo telah terjadi. Semua bermula dari rivalitas antara Prabowo dan Wiranto. Ketidak harmonisan Prabowo dan Wiranto memang sudah dilangsungkan sejak lama. Mungkin sebab latar belakang dua-duanya yang jauh berbeda.
Prabowo yang kosmopolitan ingin mempunyai pola pikir yang terbuka. Sementara Wiranto dengan latar belakang Jawa yang paling kental lebih tertutup. Namun Prabowo yang terbiasa dengan kompetisi terbuka semenjak kanak-kanak memandang rivalitas semacam tersebut sebagai urusan biasa dan tidak dijadikan personal. Berbeda dengan Wiranto yang berlatar belakang paling “Jawa Tradisional” itu, dia lebih serupa dengan Soeharto dalam menyikapi sebuah rivalitas. Lihat saja nasib yang menimpa pesaing-pesaing Soeharto yang mengganggu karir militer atau politiknya di masa lalu. Jika tidak mati, membusuk di penjara. Salah satu contohnya ialah kawan saja, Fadjroel Rachman, yang sempat meringkuk di Nusa Kambangan dan kehilangan teman-temannya. Fadjroel sendiri kesudahannya bebas saat Habibie menjadi presiden.
Indikasi ketidaksukaan Wiranto tampak dengan absennya beliau sebagai Pangab (Panglima ABRI) dalam acara serah terima Pangkostrad Letjen Soegiono untuk Prabowo. Begitu pun saat pemberhentian secara hormat Prabowo sebagai perwira militer. Beliau menanggalkan tanda-tanda pangkat Prabowo dengan satu tangan saja. Proses selesai secara paksanya karir militer Prabowo memang tidak dapat dilepaskan dari rivalitas perwira muda dan perwira tua. Prabowo sebagai cerminan perwira muda pasti saja menjadi sasaran tembak utama ketika itu.
Posisi Prabowo saat tersebut benar-benar terjepit. Di satu sisi dia ialah menantu penguasa yang sedang menjadi sasaran sentimen negatif rakyat. Di sisi lain dampak manuver Wiranto dkk, Soeharto yang masih punya pengaruh malah membencinya hingga ke ubun-ubun. Sampai-sampai untuk penggantinya Habibie, beliau mengucapkan pesan khusus guna “mengamankan” Prabowo. Bagaimana urusan tersebut dapat terjadi? Semua tidak terlepas dari peristiwa Mei yang mencekam itu. Peristiwa yang sampai kini masih menghantui republik ini.
Ada 3 dakwaan utama yang ditunjukkan kepada Prabowo, yaitu: Penculikan akitivis, penembakan mahasiswa Trisakti, dan dalang kerusuhan Mei 1998. Tidak satupun tuduhan itu yang terbukti. Seandainya Prabowo bersalah bukankah Pangab saat tersebut Wiranto? Bukankah sebagai panglima beliau yang seharusnya sangat bertanggung jawab?
Mengapa sampai saat ini Prabowo tidak pernah diberitahu mengenai hasil investigasi DKP sampai-sampai tidak dapat membela diri? Mengenai penembakan mahasiswa Trisakti, Wiranto pun terkesan sengaja ‘buying time’ dengan tidak mengusut permasalahan ini secara cepat. Akibatnya dakwaan kembali ke Prabowo, yang jadi bulan-bulanan opini publik, dicurigai sebagai orang dibalik penembakan itu. Meski tidak sedikit sekali keunikan terhadap dakwaan ini tetapi fitnah sudah menjangkau sasaran. Dan sekali lagi Prabowo terlanjur menjadi pesakitannya.
Tuduhan menunjukkan Prabowo di balik penembakan, dengan konspirasi anggota kopasus menggunakan seragam Polri sebagai pelaku penembakan snipper. Teori konspirasi ini tidak pernah terbukti, sebab peluru snipper diatas 7 mm dan proyektil peluru tertanam di korban kaliber 5,56 mm. Sementara korban dipilih secara acak. Kalau snipper bakal memilih contohnya pemimpin demo atau target pilihan. Lima hari sesudah insiden Trisakti, Prabowo datang ke lokasi tinggal Herry Hartanto. Di bawah Alquran dia bersumpah. Di depan Syaharir Mulyo Utomo orang tua korban, “Demi Allah saya tidak pernah menyuruh pembantaian mahasiswa.”
Quote:Perihal keterlibatan Prabowo atas penembakan mahasiswa Trisakti, tanggal 14 Mei terjadi pertemuan di Makostrad (Markas Komanda Staf Angkatan Darat) atas inisiatif Setiawan Djodi. Pertemuan antara Prabowo dan figur masyarakat, antara lain: Adnan Buyung Nasution, Setiawan Djodi, Fahmi Idris, Bambang Widjoyanto.
Dalam pertemuan tersebut Prabowo ditanya mengenai keterlibatannya. Prabowo menjawab, “Demi Allah saya tidak terlibat, saya di set-up.” Berdasarkan keterangan dari Buyung tampak jujur. Peristiwa selanjutnya semakin memperkuat ketidak terlibatan Prabowo atas peristiwa penembakan mahasiswa tersebut. Puspom ABRI Sjamsu Djalal menghadapi kendala memaksa Kapolri Dibyo Widodo untuk memberikan anggotanya yang dicurigai terlibat. Disinilah peran Wiranto terlihat.
17 hari sesudah insiden itu selesai baru Wiranto memanggil Dibyo untuk menyuruh untuk memberikan anggota. Itupun anggota di berikan ke Polda bukan ke POM ABRI. Padahal Polri saat tersebut masih menjadi unsur ABRI dan Pangabnya ialah Wiranto. Sementara senjata sebagai barang bukti baru di berikan tanggal 19 Juni 98. Hampir satu bulan semenjak peristiwa terjadi. Kelak tahun 2000, uji balistik di Belfast, Irlandia memperlihatkan bahwa peluru berasal dari anggota Polri unit gegana. Siapa bahwasannya dibalik pristiwa itu? Siapa yang beri perintah? Jelas bukan Prabowo yang sebagai Pangkostrad tidak punya jalur komando ke Polri. Dalam militer, garis komando benar-benar diterapkan. Bagaimana dengan dakwaan Prabowo sebagai benak dibalik kerusuhan Mei 98? Benarkah dia yang bertanggung jawab atas peristiwa tersebut? Atau pulang lagi beliau dikorbankan dampak proses perebutan dominasi terselubung diantara semua elit militer ketika itu? Apakah benar kerusuhan itu terjadi sebab spontanitas atau ‘crime by omission’ (kejahatan sebab pembiaran) atau bahkan ‘terror by design’ (teror yang didesain)?
SUMBER https://masawep.wordpress.com/2014/05/22/the-untold-prabowo-jenderal-yang-terbuang/

Comments
Post a Comment