Skip to main content

DRAMA PERLAWANAN BUDAYA



Selasa, 12 April 2018, di Waroeng Kopi, Grand Indonesia, sambil ngopi dan makan siang, saya dan Butet Kartaredjasa "terkondisikan" ngobrol serius  soal drama dengan Cobina Gillit, Ph.D. Maklum, Cobina adalah seorang dramaturg, ahli seni drama, penulis dan peneliti teater, juga Assistant Professor Theatre and Performance, State University of New York. Selain mengajar dan bermain drama, sejak 30 tahun lalu Cobina meneliti eksistensi dan pergulatan teater dan dramawan Indonesia sejak rezim Orde Baru sampai era reformasi. Yang diteliti antara lain Bengkel Teater Rendra, Teater Kecil Arifin C Noor, Teater Koma Riantiarno, Teater Mandiri Putu Wijaya sampai Teater Gandrik Butet Kartaredjasa. Hasil penelitiaannya selain jadi disertasi doktornya juga diterbitkan sebagai seri buku Antology Drama Indonesia. Demikian seriusnya dalam meneliti drama Indonesia, sejak 30 tahun yang lalu Cobina bahkan jadi anggota Teater Mandiri.


Cobina menelisik "daya hidup" teater Indonesia di bawah rezim Orde Baru yang represif, yang melahirkan "perlawanan budaya" Bengkel Teater dengan Rendra sebagai "panglima" sekaligus pionir drama-drama kritik sosial. Di masa itu, perlawanan budaya terhadap penguasa, yakni pemerintah, partai politik dan institusi militer,  berisiko dipenjarakan. Namun, hal itu tidak menyurutkan "daya hidup" maupun menciutkan nyali Rendra. Setidaknya, "perlawanan budaya" teater Indonesia terhadap penguasa represif mampu melakukan "self sensor" yang menyelamatkannya dari jeruji penjara.


Ketika Orde Baru ditumbangkan era reformasi, dan demokrasi memungkinkan siapapun mengkritik bahkan menghujat penguasa, bukan berarti dunia teater terbebas dari "tekanan dan ancaman". Demokrasi memberi keleluasaan mengkritisi penguasa. Namun, setelah "hubungan vertikal" tidak lagi bermasalah', "kerja kebudayaan", termasuk teater, dewasa ini justru mengalami masalah horizontal yang tidak teridentifikasi seperti halnya penguasa yang dapat kita kenali, misalnya intitusi atau lembaganya," kata Butet.


Maraknya intoleransi, politisasi dan kriminalisasi kerja kebudayaan yang belakangan ini terjadi di masyarakat, hemat saya, memang merefleksikan adanya "hubungan horisontal" yang setara "hubungan vertikal" dengan orde otoriter yang secara efektif memberangus ekspresi budaya. Oleh karena itu, bagi pekerja budaya yang tidak terlatih dan apalagi tidak memiliki "daya self sensor", maka bahkan ekspresi kebudayaan yang menimbulkan gelak tawa sekalipun bisa berakhir dengan tuntutan hukum atas tuduhan penistaan terhadap hal-hal yang mustahil bisa ternista oleh apapun dan siapapun.


Penelitian Cobina atas riwayat perjuangan, pergulatan dan perlawanan budaya teater Indonesia dalam kurun waktu Orde Baru hingga era reformasi, sungguh membuat saya merasa bangga, terharu dan bersyukur. Oleh karena itu saya merasa geram, dan heran, ketika Teater Gandrik yang sejak tahun 1985 tampil di Taman Ismail Marzuki (TIM), tahun 2017 yang lalu tiba-tiba tidak diijinkan pentas di TIM dengan alasan, "Pencapaian artistik Teater Gandrik tidak memenuhi syarat," kata Butet mengutip surat resmi dari Komite Teater Dewan Kesenian TIM. Ketika Ratna Riantiarno menelepon Dewan Kesenian TIM untuk menanyakan nasib Teater Gandrik, jawabnya karena, "Hanya kelimpok bertaraf internasional  saja yang bisa tampil di  Gedung Teater TIM."


Selain geram dan heran, saya juga berharap mudah-mudahan model kekuasaan yang sontoloyo itu tidak tercatat dalam penelitian dan buku yang bakal diterbitkan Cobina. Malu benar kita kalau hal itu sampai diketahui dunia...***

Comments

Popular posts from this blog

DON HASMAN SANG FOTOGRAFER PENJELAJAH

Siang itu, Kamis, 19 April 2018, Dungus Forest Park Madiun kedatangan tamu luar biasa spesial: DON HASMAN. Masyarakat awam, utamanya di daerah, mungkin tidak banyak yang tahu siapa Don Hasman. Bahkan Mas Herutomo, yang sedang bergulat menyempurnakan gallery ranting di destinasi wisata hutan itu, hanya terkesima oleh kehadiran pria berusia 78 tahun yang menyalaminya dengan hangat. Don Hasman memang lebih dikenal karya etnofotografinya dibanding wajahnya. Bukan hanya di Indonesia, karya fotografi Don Hasman bahkan dikenal dunia! Maklum, sepanjang usianya, Don Hasman telah mendaki  banyak gunung di dunia, menjelajah suku-suku pedalaman.  Dia adalah orang Indonesia pertama yang mendaki Himalaya. Pada 1978, dia menaklukkan puncak Nuptse (7.861 mdpl). Dua tahun sebelumnya, Don Hasman menaklukkan Kala Patthar (5.644) dalam perjalanan menuju Everest Base Pria kelahiran Cirebon, 7 Oktober 1940, itu memang terkenal sebagai penjelajah. Pada  1986, Oom Don berhasil...

Hotel Tentrem TRADE MARK JAWA HOTEL BINTANG LIMA PILIHAN OBAMA

Perusahaan besar, apalagi hotel bintang lima, lazimnya memilih trade mark yang gagah, elite dan kebarat-baratan. Oleh karena itu, keputusan Irwan Hidayat, Presdir Sido Muncul, untuk menamai hotel bintang lima miliknya sebagai Hotel Tentrem, hemat saya, terbilang "berani" menabrak kelaziman.  Tapi, Mas Irwan yang saya kenal sejak 1992, memang seorang pengusaha visioner dan berpikiran otentik--sehingga sering dibilang "nyleneh". Ketika produk minuman energi pesaingnya gencar menayangkan iklan yang dibintangi olahragawan internasional berhonor miliaran, misalnya, Mas Irwan justru merilis iklan Kuku Bima produk Sido Muncul yang dibintangi Chris John, petinju nasional yang kemudian menjadi juara tinju dunia. Keputusan "nyleneh" Mas Irwan "menabrak" bintang iklan internasional dengan menampilkan bintang iklan nasional, tentu butuh keberanian mengambil risiko. Tak hanya itu, Mas Irwan juga menerima tantangan saya untuk menyandingkan Chr...

Televisi NASIB HIBURAN GRATIS RAKYAT KECIL Harry Tjahjono

Tahun 1989, ketika TV swasta belum ada, saya sudah menulis sinetron untuk TVRI. Tahun 1992, saya mengelola tabloid Bintang Indonesia bersama Yanto Bhokek, Erwin Arnada, Gunawan Wibisono, Ricke Senduk dan kemudian Arswendo Atmowiloto. Saya menggantikan posisi Bujang Pratiko, pemimpin redaksi tabloid televsi, film dan hiburan itu. Ketika itu RCTI baru lahir, disusul TPI. Dan Bintang Indonesia mengisi kekosongan penerbitan pers tentang televisi setelah tabloid Monitor dibredel dan Arswendo dipenjarakan. Monitor dan Arswendo merupakan media dan sastrawan jurnalis yang (pertama kali) secara spesifik, intens dan serius mengulas dan mengkritisi  produk, produser, penyelenggara dan artis pendukung acara televisi. Tidak ada program televisi yang luput dari pengamatan Monitor dan kritik Arswendo. Prestasi stake-holder televisi pun selalu diapresiasi Monitor dan dipujikan Arswendo yang menciptakan dan memopularkan istilah Sinetron, akronim dari Sinema Elektronik. Losmen, Jendel...