Skip to main content

APA PERLUNYA "MERENDAHKAN" SETAN?



Senja pamitan. Langit tembaga menggelap. Dengan perut lapar dan kerongkongan garing saya mengayun langkah ke sebuah warung di tikungan pertigaan itu. Kebetulan tidak ada pembeli, sehingga pesanan teh tawar hangat dan sepiring nasi sayur, tempe, telor dicabein, segera terhidang. 

Ketika saya sedang enak bersantap, datang seorang laki-laki berwajah sangar, memesan menu yang sama dan segera melahapnya. Usai makan, saya memesan kopi dan mencomot sebatang rokok ketengan yang disediakan di toples berikut koreknya. Nikmat benar rasanya. Usai makan, laki-laki itu juga pesan kopi, mencomot sebatang rokok dan melengkapi kenikmatan hidupnya.

"Saya ini bingung, heran, juga jengkel, kenapa ada orang yang mengaku pintar tapi kok ngomong soal dikotomi Partai Setan dan Partai Tuhan," katanya ujug-ujug membuka percakapan.

"Pasti ada alasannya. Ada argumentasinya," sahut saya sekadar bersopan-santun.

"Orang yang mengaku pintar, apalagi politisi, pasti punya banyak alasan, pasti mahir meretorika argumentasi. Saya tidak meragukan itu. Saya hanya heran dan jengkel, kenapa sih menyamakan partai politik dengan setan? Apa perlunya sih 'merendahkan' setan menjadi sekadar partai? Setan itu bagaimanapun adalah satu-satunya makhluk yang berani menolak perintah Tuhan untuk bersujud pada Adam. Konsekuen dikutuk masuk neraka demi keberaniannya menolak sujud pada Adam. Itu jauh tidak sebanding dengan partai yang bersujud pada Ketumnya, menyembah Ketua Dewan Pembinanya, dan secara pengecut gemar mengkambing-hitamkan kesalahan dan kekalahannya pada pihak lain. Jadi apa perlunya 'merendahkan' setan sebagai sekadar partai?" cerocosnya panjang lebar.

"Mungkin hanya untuk membandingkan bahwa Partai Setan itu lebih buruk dari Partai Tuhan," kata saya gelisah, ngeri terlibat percakapan yang bisa membuat saya dipolisikan. Sebab saya bukan partisan partai atau ormas yang mau mem-backing ulah saya. Juga bukan juru filsafat yang boleh bicara kitab suci adalah fiksi dan lain sebagainya. Saya sungguh gelisah. Tapi laki-laki berwajah sangar itu segera menyambar ucapan saya.

"Itu dia konyolnya! Merendahkan setan sebagai partai saja sudah sesat nalar, apalagi memberhalakan Tuhan sebagai partai, dosa apa gerangan yang akan mengazabnya? Memberhalakan Tuhan sebagai benda saja dosa, lalu bagaimana jika memberhalakan Tuhan sebagai partai?" katanya sangar.

Saya berdiri, bertanya pada pemilik warung berapa yang harus saya bayar. Semuanya, termasuk sebatang rokok, Rp18 ribu. Saya merogoh kantong baju dan kantong celana samping, depan, belakang, dan terkejut lantaran dompet saya tiada. Mungkin terjatuh atau ketinggalan di rumah. Keringat dingin membasah. Saya panik.

"Kenapa, Brother? Dompet ketinggalan? Santai saja. Boleh saya traktir, kan?" kata laki-laki sangar itu seraya mengulurkan selembar uang seratus ribu kepada pemilik warung dan berpesan, "Kembaliannya biar dipakai ongkos pulang kawan saya."

Saya tidak sempat mengucapkan terima kasih karena laki-laki berwajah sangar itu sudah berlalu pergi dan lenyap dalam gelap. Saya berdiri terkesima, mensyukuri telah ditolong seseorang yang baik dan dermawan. Saya bahkan merasa mendapatkan mukjizat. Tapi, apa perlunya saya "meninggikan" laki-laki sangar itu sebagai "dewa penolong" atau "malaikat penyelamat"? Sebab, satunya kata dengan tindakan seorang laki-laki sangar jauh lebih bermanfaat dibanding jargon atau retorika seribu politisi gadungan. ***

Comments

Popular posts from this blog

DON HASMAN SANG FOTOGRAFER PENJELAJAH

Siang itu, Kamis, 19 April 2018, Dungus Forest Park Madiun kedatangan tamu luar biasa spesial: DON HASMAN. Masyarakat awam, utamanya di daerah, mungkin tidak banyak yang tahu siapa Don Hasman. Bahkan Mas Herutomo, yang sedang bergulat menyempurnakan gallery ranting di destinasi wisata hutan itu, hanya terkesima oleh kehadiran pria berusia 78 tahun yang menyalaminya dengan hangat. Don Hasman memang lebih dikenal karya etnofotografinya dibanding wajahnya. Bukan hanya di Indonesia, karya fotografi Don Hasman bahkan dikenal dunia! Maklum, sepanjang usianya, Don Hasman telah mendaki  banyak gunung di dunia, menjelajah suku-suku pedalaman.  Dia adalah orang Indonesia pertama yang mendaki Himalaya. Pada 1978, dia menaklukkan puncak Nuptse (7.861 mdpl). Dua tahun sebelumnya, Don Hasman menaklukkan Kala Patthar (5.644) dalam perjalanan menuju Everest Base Pria kelahiran Cirebon, 7 Oktober 1940, itu memang terkenal sebagai penjelajah. Pada  1986, Oom Don berhasil...

Hotel Tentrem TRADE MARK JAWA HOTEL BINTANG LIMA PILIHAN OBAMA

Perusahaan besar, apalagi hotel bintang lima, lazimnya memilih trade mark yang gagah, elite dan kebarat-baratan. Oleh karena itu, keputusan Irwan Hidayat, Presdir Sido Muncul, untuk menamai hotel bintang lima miliknya sebagai Hotel Tentrem, hemat saya, terbilang "berani" menabrak kelaziman.  Tapi, Mas Irwan yang saya kenal sejak 1992, memang seorang pengusaha visioner dan berpikiran otentik--sehingga sering dibilang "nyleneh". Ketika produk minuman energi pesaingnya gencar menayangkan iklan yang dibintangi olahragawan internasional berhonor miliaran, misalnya, Mas Irwan justru merilis iklan Kuku Bima produk Sido Muncul yang dibintangi Chris John, petinju nasional yang kemudian menjadi juara tinju dunia. Keputusan "nyleneh" Mas Irwan "menabrak" bintang iklan internasional dengan menampilkan bintang iklan nasional, tentu butuh keberanian mengambil risiko. Tak hanya itu, Mas Irwan juga menerima tantangan saya untuk menyandingkan Chr...

Televisi NASIB HIBURAN GRATIS RAKYAT KECIL Harry Tjahjono

Tahun 1989, ketika TV swasta belum ada, saya sudah menulis sinetron untuk TVRI. Tahun 1992, saya mengelola tabloid Bintang Indonesia bersama Yanto Bhokek, Erwin Arnada, Gunawan Wibisono, Ricke Senduk dan kemudian Arswendo Atmowiloto. Saya menggantikan posisi Bujang Pratiko, pemimpin redaksi tabloid televsi, film dan hiburan itu. Ketika itu RCTI baru lahir, disusul TPI. Dan Bintang Indonesia mengisi kekosongan penerbitan pers tentang televisi setelah tabloid Monitor dibredel dan Arswendo dipenjarakan. Monitor dan Arswendo merupakan media dan sastrawan jurnalis yang (pertama kali) secara spesifik, intens dan serius mengulas dan mengkritisi  produk, produser, penyelenggara dan artis pendukung acara televisi. Tidak ada program televisi yang luput dari pengamatan Monitor dan kritik Arswendo. Prestasi stake-holder televisi pun selalu diapresiasi Monitor dan dipujikan Arswendo yang menciptakan dan memopularkan istilah Sinetron, akronim dari Sinema Elektronik. Losmen, Jendel...