Skip to main content

SECANGKIR TAGLINE PILKADA




Selama hampir sebulan menjabat "mandor gebyok" di Madiun, setiap pagi, siang, sore dan malam hari saya tour de reses ngopi gembira di mana-mana. Bercangkir-cangkir kopi cilik saya teguk sembari menyeruput rindu dan nostalgia. Selain itu, selama menjabat "mandor  gebyok' , saya merasa terkepung tagline pilkada yang ditawarkan kepada warga kota Madiun tercinta. Maka saya pun tergoda untuk menyeruput kopi tagline dan "menafsirkannya". 

SANTUN & MENGAYOMI
Tagline yang "wise". Menjanjikan kedamaian, menawarkan kenyamanan. Tagline ini tampaknya juga berniat membasuh trauma, setidaknya ingin menjawab kegamangan  warga yang pernah dipimpin seorang walikota arogan, otoriter dan gemar ganti pejabat sesukanya. Gaya kepemimpinan arogan di era yang lalu, tak syak, memang tidak layak ditiru, apalagi dilestarikan. Karena arogansi, ketidak-santunan, hanya menimbulkan resistensi, kebencian massal, tidak produktif dan menyuburkan apatisme kolosal. 

BERANI BERUBAH
Tagline yang "progressive". Menjanjikan pembaruan. Menegaskan perubahan sebagai keniscayaan yang tidak terelakkan, seperti halnya "kehendak Tuhan" "meniupkan "ruh" ke dalam sperma demi menyempurnakan diri menjadi bayi, menjadi manusia. Seperti kata Heraklitos bahwa: Panta Rhei, segalanya mengalir,  yang abadi hanyalah perubahan.  Dan keberanian adalah syarat absolut untuk bisa mewujudkan banyak hal, termasuk perubahan. Tagline ini juga mengingatkan saya pada Fauzi Bowo yang memenangi Pilgub Jakarta 2007-2013 dengan tagline "Serahkan pada Ahlinya" yang dibikin Mas Biakto, tokoh senior advertising, dengan berlandaskan Hadist.

MAKMUR ADIL SEJAHTERA MADIUN IKI AE
Tagline yang "normative". Menjanjikan kehidupan sosial yang ideal. Menawarkan tata krama bermasyarakat yang damai dan toleran. Sebab, bagaimanapun, utopia makmur adil sejahtera memang layak diperjuangkan. Yang juga menarik adalah "gimmick" kreatif MADIUN IKI AE, yang "mengadopsi" tanda plat nomor kendaraan Madiun, AE, sebagai "subtagline" MAKMUR ADIL SEJAHTERA. 

Secangkir tagline pilkada, hemat saya, analog dengan secangkir kopi yang disajikan barista. CARA menyajikannya bisa dengan cangkir atau gelas. Tapi, BAGAIMANA menyajikannya, seorang barista tulen tentu akan memerlukan kaidah gastronomi kopi. 

Demikian pula CARA menyajikan tagline bisa dengan baliho, medsos, leaflet, menghadiri pengajian, temu muka dan seterusnya. Tapi, BAGAIMANA menyajikan tagline tentu membutuhkan kaidah kreativitas komunikasi yang memadai.

Tanpa bermaksud memuji atau memihak, saya merasa perlu mengapresiasi SELOSO BLONJO, kontrak politik dan menggantikan tugas ibu rumah tangga pada 21 April, sebagai kaidah kreativitas komunikasi tentang BAGAIMANA menyajikan secangkir tagline pilkada.

Comments

Popular posts from this blog

DON HASMAN SANG FOTOGRAFER PENJELAJAH

Siang itu, Kamis, 19 April 2018, Dungus Forest Park Madiun kedatangan tamu luar biasa spesial: DON HASMAN. Masyarakat awam, utamanya di daerah, mungkin tidak banyak yang tahu siapa Don Hasman. Bahkan Mas Herutomo, yang sedang bergulat menyempurnakan gallery ranting di destinasi wisata hutan itu, hanya terkesima oleh kehadiran pria berusia 78 tahun yang menyalaminya dengan hangat. Don Hasman memang lebih dikenal karya etnofotografinya dibanding wajahnya. Bukan hanya di Indonesia, karya fotografi Don Hasman bahkan dikenal dunia! Maklum, sepanjang usianya, Don Hasman telah mendaki  banyak gunung di dunia, menjelajah suku-suku pedalaman.  Dia adalah orang Indonesia pertama yang mendaki Himalaya. Pada 1978, dia menaklukkan puncak Nuptse (7.861 mdpl). Dua tahun sebelumnya, Don Hasman menaklukkan Kala Patthar (5.644) dalam perjalanan menuju Everest Base Pria kelahiran Cirebon, 7 Oktober 1940, itu memang terkenal sebagai penjelajah. Pada  1986, Oom Don berhasil...

Hotel Tentrem TRADE MARK JAWA HOTEL BINTANG LIMA PILIHAN OBAMA

Perusahaan besar, apalagi hotel bintang lima, lazimnya memilih trade mark yang gagah, elite dan kebarat-baratan. Oleh karena itu, keputusan Irwan Hidayat, Presdir Sido Muncul, untuk menamai hotel bintang lima miliknya sebagai Hotel Tentrem, hemat saya, terbilang "berani" menabrak kelaziman.  Tapi, Mas Irwan yang saya kenal sejak 1992, memang seorang pengusaha visioner dan berpikiran otentik--sehingga sering dibilang "nyleneh". Ketika produk minuman energi pesaingnya gencar menayangkan iklan yang dibintangi olahragawan internasional berhonor miliaran, misalnya, Mas Irwan justru merilis iklan Kuku Bima produk Sido Muncul yang dibintangi Chris John, petinju nasional yang kemudian menjadi juara tinju dunia. Keputusan "nyleneh" Mas Irwan "menabrak" bintang iklan internasional dengan menampilkan bintang iklan nasional, tentu butuh keberanian mengambil risiko. Tak hanya itu, Mas Irwan juga menerima tantangan saya untuk menyandingkan Chr...

Televisi NASIB HIBURAN GRATIS RAKYAT KECIL Harry Tjahjono

Tahun 1989, ketika TV swasta belum ada, saya sudah menulis sinetron untuk TVRI. Tahun 1992, saya mengelola tabloid Bintang Indonesia bersama Yanto Bhokek, Erwin Arnada, Gunawan Wibisono, Ricke Senduk dan kemudian Arswendo Atmowiloto. Saya menggantikan posisi Bujang Pratiko, pemimpin redaksi tabloid televsi, film dan hiburan itu. Ketika itu RCTI baru lahir, disusul TPI. Dan Bintang Indonesia mengisi kekosongan penerbitan pers tentang televisi setelah tabloid Monitor dibredel dan Arswendo dipenjarakan. Monitor dan Arswendo merupakan media dan sastrawan jurnalis yang (pertama kali) secara spesifik, intens dan serius mengulas dan mengkritisi  produk, produser, penyelenggara dan artis pendukung acara televisi. Tidak ada program televisi yang luput dari pengamatan Monitor dan kritik Arswendo. Prestasi stake-holder televisi pun selalu diapresiasi Monitor dan dipujikan Arswendo yang menciptakan dan memopularkan istilah Sinetron, akronim dari Sinema Elektronik. Losmen, Jendel...