Tulisan ini ialah milik @Alghazaru yang ditulis pada akun chirpstory.com miliknya. Berisi tentang pernyataan Ayahanda Prabowo Prof. Sumitro mengenai tragedi kedzaliman yang menimpa putranya pada tahun 1998 yang dilaksanakan oleh Wiranto. Redaksi Bulan Sabit Kembar sengaja memformat ulang artikel ini supaya lebih enak dibaca dalam versi posting Blog dengan tidak banyak penyempurnaan penulisan kalimat.
Sore ini anda coba kupas kesaksian Ayahanda Prabowo berhubungan tragedi 1998 Prof. Soemitro.
Bukan rahasia umum bahwa Soeharto berprasangka buruk kpd Prabowo dan Habibie utk menggulingkan kekuasaannya, demikian disebutkan oleh Prof Soemitro. Bermula dari Soeharto yang sudah termakan isu yg dihembuskan oleh anak-anaknya, cerita-cerita miring pun berhembus kuat karena di kalangan perwita tinggi ABRI keirihatian atas karir prabowo yang begitu cepat. Berdasarkan keterangan dari beliau yang telah tidak lagi bisa menyembunyikan rasa bencinya terhadap Prabowo ialah Pangab Jenderal Wiranto.
Bersama kelompoknya, Wiranto dalam posisi terus mengintai, dan bahkan barangkali sebagai pihak yang selalu berjuang mengambil inisiatif untuk memungut tindakan dan telah tentu tidak bakal menyia-nyiakan peluang begitu menyaksikan ada kesempatan untuk menyingkirkan Prabowo maka dengan segara dirinya bakal mencampakkan Prabowo.
Pada selama tanggal 21 Mei 1998 informasinya Wiranto mengeluh untuk mantan Presiden/Pangti Soeharto tentang pergerakan Prabowo. Dari sumber yang paling dipercayaya, Soeharto bertanya untuk Wiranto apakah Prabowo mesti dilempar ke teritorial,ke Irian Jaya atau entah ke mana? dan Soeharto berbicara kapada wiranto guna menyingkirkan Prabowo dari Pasukan.
Malam sebelum pemberitahuan pemberhentian Prabowo, beliau menelpon Prof. Soemitro (ayahnya) dan menuliskan bahwa beliau sudah dikhianati oleh mertuanya, Prabowo jelass kecewa terhadap family cendana dan ia mencatat surat utk membela diri, tetapi surat tersebut dinilai tidak layak oleh family Cendana.
Tanggal 25 Mei 1998: Letjen Prabowo resmi ditanggalkan dari Pangkostrad, dan dikirim ke Bandung guna menjadi Komandan Sesko ABRI, tetapi setelah pengecekan Dewan Kehormatan Perwira (DKP), bahkan karier militer Prabowo diselesaikan oleh Wiranto
Kemudian Prabowo menyimpulkan untuk memilih menjadi pengusaha di luar negeri, guna merangkai hidup yang baru. Sebelum berrangkat, ia sempat melapor untuk Pangab Jenderal TNI Wiranto, dan ketika tersebut Wiranto sempat berkomentar singkat, “Ya, telah pergi saja ke luar, tak apa-apa. Jauhkan pikiran anda dari Mahmil!”
Menyaksikan tragedi yang menimpa Prabowo, pasti saja sebagai orang tua, Sumitro memandang tersebut sebagai cobaan yang berat dalam kehidupan. Sumitro mengatakanProf. , Prabowo harus tetap tabah dan lebih powerful lagi. Masalahnya bukan ia dipukul, namun bagaimana ia dapat bertahan. Soemitro bangga anknya tabah. Ujian bikin saya dan isteri dalam kehidupan jauh lebih dari itu, berakhir dari menteri kemudian tiba-tiba jatuh jadi buronan
Tindakan kesatu ABRI, segera sesudah Soeharto lengser merupakan brusaha mengungkap permasalahan penculikan semua aktivis pro-demokrasi. Wiranto memberitahukan tujuh oknum anggota Kopassus sebagai tersangka permasalahan penculikan. Wiranto kemudian seakan berkeinginan memuaskan tuntutan msyarakt dengan mbentuk Dewan Kehormatan Perwira (DKP) yang diketuai Subagyo Hasilnya, Prabowo diselesaikan masa dinasnya (istilah beda dari dibebastugaskan dengan hormat) dari kesatuannya di ABRI demikian juga sejumlah perwira lainnya diberhentikan tapi lantas belakangan terbukti bahwa tahapan Wiranto itu lebih bermakna politis, bila tidak boleh disebutkan mengelabui publik dan jauh dari kesungguhan institusi ABRI sendiri guna mengungkap satu per satu permasalahan yang mengemuka di masyarakat
Prabowo mengakui perbutannya untuk DKP dan mengungkapkan mengenai susunan sembilan aktivis yang mesti dilarikan yang ia bisa dari ATASANNYA dan kesembilan orang tersebut menjadi tanggung jawabnya, yang lantas telah ia lepaskan serta semuanya masih hidup. Haryanto Taslam informasinya mengakui bahwa ia masih hidup sebab Prabowo yang melepaskan,
Yang menjadi pertanyaan Mengapa sesudah DKP mengecek Prabowo dan kawan-kawan, pengusutan permasalahan penculikan kemudian berhenti? Bukankah yang terkaitsudah mau dan mengaku lebih senang bila kasusnya ditamatkan di mahkamah militer. Dalam kamus tentara tak dapat seorangg tentara memungut sikap tanpa adanya perintah atasan terlebih memungut inisiatif. Berarti yang harus dicari lebih jauh merupakan siapa yang memberi perintah untuk Prabowo guna menculik?, KSAD-kah, Pangab atau Pangti..?, pertanyaan-pertanyaan itulah yang menjadi penyebab kengapa Prabowo tidak dilanjutkan ke Mahkamah Militer, sebab pasti bakal menyeret tidak sedikit nama jendral dan rahasia ABRI bakal terbongkar.
Muatan politis Wiranto terasa dalam 2 hal,
Pertama, merebut simpati publik dengan mengemukakan nama-nama kesebelasan kopasus lantas menjatuhkan hukuman
Kedua, menangani sesegera mungkin permasalahan penculikan yang melibatkan Prabowo, berarti akan tersingkap luas kesemptan untuk Wiranto guna menggeser Prabowo. Dengan tanpa melacak lebih lanjut ke tingkat yang lebih tinggi guna menggali tahu siapa yang memberi perintah untuk Prabowo, dan publik segera sadar bahwa pengungkapan permasalahan penculikan semata-mata memiliki sasaran tunggal yaitu menggeser Prabowo.
Wiranto lantas dengan leluasa mengerjakan konsolidasi di tubuh TNI dan dinilai sebagai pembersihan terhadap orang-orang yang loyal terhadap Prabowo, puncaknya memarginalisasi semua perwira yang dekat dengan Prabowo dan dilakukannya mutasi besar-besaran 100 perwira ABRI pada 4 Januari 1999
Prof. Sumitro berbicara keadilan terhadap masalah yang dihadapi Prabowo tampak kabur dan ngawur, sebab seakan seluruh hujatan terpusat pada Kopassus dan Prabowo.
Prof. Soemitro merasa terdapat sesuatu yang janggal dimana pada tnggal 14 mei 1998, Wiranto ngotot memberangkatkan seluruh jendral urgen ke Malang guna menghadiri PPR sebenarnya sudah terdapat info bahwa bakal terjadi kerusuhan besar-besaran di Jakarta. Saat tersebut prabowo juga mencoba menyerahkan saran untuk Wiranto guna tidak berangkat ke malang. Prabowo menuliskan apakah tidak usahakan ia sedang di Jakarta guna berjaga-jaga menolong Pangdam Mayjen Sjafrie Sjamsuddin, tetapi Wiranto tetap bersikeras bahwa seluruh harus berangkat meninggalkan Jakarta! Ini berarti mengorbankan ketenteraman Jakarta. Padahal harusnya upacara pergantian Pasukan Pemukul Reaksi Cepat (PPRC) lumayan hanya dilaksanakan oleh panglima divisi
Saat tersebut Prof. Soemitro menilai sikap Wiranto sangatlah janggal dan mengasumsikan keras tersembunyi maksud-maksud terselubung kenapa Wiranto mengungsikan semua pimpinan pasukan. Untuk Sumitro urusan inilah yang mesti diusut tuntas untuk menyingkap misteri tebal di seputar kerusuhan 13-15 Mei 1998 dan rekomendasi Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) supaya pemerintah mengusut pertemuan sekian banyak tokoh tanggal 14 Mei 1998 di Makostrad
Yang terjadi pada Mei 1998 memang tidak sedikit kejanggalan khususnya di tubuh TNI AD dan bahwa Prabowo tidak di-ajukan ke Mahkamah Militer bukan sebab dia menolak, tetapi TNI AD tidak mau membawa Prabowo ke Mahkmi. Silahkan masyarakat menilai siapa sebetulnya yang fobia terbongkar boroknya.
Sore ini anda coba kupas kesaksian Ayahanda Prabowo berhubungan tragedi 1998 Prof. Soemitro.
Bukan rahasia umum bahwa Soeharto berprasangka buruk kpd Prabowo dan Habibie utk menggulingkan kekuasaannya, demikian disebutkan oleh Prof Soemitro. Bermula dari Soeharto yang sudah termakan isu yg dihembuskan oleh anak-anaknya, cerita-cerita miring pun berhembus kuat karena di kalangan perwita tinggi ABRI keirihatian atas karir prabowo yang begitu cepat. Berdasarkan keterangan dari beliau yang telah tidak lagi bisa menyembunyikan rasa bencinya terhadap Prabowo ialah Pangab Jenderal Wiranto.
Bersama kelompoknya, Wiranto dalam posisi terus mengintai, dan bahkan barangkali sebagai pihak yang selalu berjuang mengambil inisiatif untuk memungut tindakan dan telah tentu tidak bakal menyia-nyiakan peluang begitu menyaksikan ada kesempatan untuk menyingkirkan Prabowo maka dengan segara dirinya bakal mencampakkan Prabowo.
Pada selama tanggal 21 Mei 1998 informasinya Wiranto mengeluh untuk mantan Presiden/Pangti Soeharto tentang pergerakan Prabowo. Dari sumber yang paling dipercayaya, Soeharto bertanya untuk Wiranto apakah Prabowo mesti dilempar ke teritorial,ke Irian Jaya atau entah ke mana? dan Soeharto berbicara kapada wiranto guna menyingkirkan Prabowo dari Pasukan.
Malam sebelum pemberitahuan pemberhentian Prabowo, beliau menelpon Prof. Soemitro (ayahnya) dan menuliskan bahwa beliau sudah dikhianati oleh mertuanya, Prabowo jelass kecewa terhadap family cendana dan ia mencatat surat utk membela diri, tetapi surat tersebut dinilai tidak layak oleh family Cendana.
Tanggal 25 Mei 1998: Letjen Prabowo resmi ditanggalkan dari Pangkostrad, dan dikirim ke Bandung guna menjadi Komandan Sesko ABRI, tetapi setelah pengecekan Dewan Kehormatan Perwira (DKP), bahkan karier militer Prabowo diselesaikan oleh Wiranto
Kemudian Prabowo menyimpulkan untuk memilih menjadi pengusaha di luar negeri, guna merangkai hidup yang baru. Sebelum berrangkat, ia sempat melapor untuk Pangab Jenderal TNI Wiranto, dan ketika tersebut Wiranto sempat berkomentar singkat, “Ya, telah pergi saja ke luar, tak apa-apa. Jauhkan pikiran anda dari Mahmil!”
Menyaksikan tragedi yang menimpa Prabowo, pasti saja sebagai orang tua, Sumitro memandang tersebut sebagai cobaan yang berat dalam kehidupan. Sumitro mengatakanProf. , Prabowo harus tetap tabah dan lebih powerful lagi. Masalahnya bukan ia dipukul, namun bagaimana ia dapat bertahan. Soemitro bangga anknya tabah. Ujian bikin saya dan isteri dalam kehidupan jauh lebih dari itu, berakhir dari menteri kemudian tiba-tiba jatuh jadi buronan
Tindakan kesatu ABRI, segera sesudah Soeharto lengser merupakan brusaha mengungkap permasalahan penculikan semua aktivis pro-demokrasi. Wiranto memberitahukan tujuh oknum anggota Kopassus sebagai tersangka permasalahan penculikan. Wiranto kemudian seakan berkeinginan memuaskan tuntutan msyarakt dengan mbentuk Dewan Kehormatan Perwira (DKP) yang diketuai Subagyo Hasilnya, Prabowo diselesaikan masa dinasnya (istilah beda dari dibebastugaskan dengan hormat) dari kesatuannya di ABRI demikian juga sejumlah perwira lainnya diberhentikan tapi lantas belakangan terbukti bahwa tahapan Wiranto itu lebih bermakna politis, bila tidak boleh disebutkan mengelabui publik dan jauh dari kesungguhan institusi ABRI sendiri guna mengungkap satu per satu permasalahan yang mengemuka di masyarakat
Prabowo mengakui perbutannya untuk DKP dan mengungkapkan mengenai susunan sembilan aktivis yang mesti dilarikan yang ia bisa dari ATASANNYA dan kesembilan orang tersebut menjadi tanggung jawabnya, yang lantas telah ia lepaskan serta semuanya masih hidup. Haryanto Taslam informasinya mengakui bahwa ia masih hidup sebab Prabowo yang melepaskan,
Yang menjadi pertanyaan Mengapa sesudah DKP mengecek Prabowo dan kawan-kawan, pengusutan permasalahan penculikan kemudian berhenti? Bukankah yang terkaitsudah mau dan mengaku lebih senang bila kasusnya ditamatkan di mahkamah militer. Dalam kamus tentara tak dapat seorangg tentara memungut sikap tanpa adanya perintah atasan terlebih memungut inisiatif. Berarti yang harus dicari lebih jauh merupakan siapa yang memberi perintah untuk Prabowo guna menculik?, KSAD-kah, Pangab atau Pangti..?, pertanyaan-pertanyaan itulah yang menjadi penyebab kengapa Prabowo tidak dilanjutkan ke Mahkamah Militer, sebab pasti bakal menyeret tidak sedikit nama jendral dan rahasia ABRI bakal terbongkar.
Muatan politis Wiranto terasa dalam 2 hal,
Pertama, merebut simpati publik dengan mengemukakan nama-nama kesebelasan kopasus lantas menjatuhkan hukuman
Kedua, menangani sesegera mungkin permasalahan penculikan yang melibatkan Prabowo, berarti akan tersingkap luas kesemptan untuk Wiranto guna menggeser Prabowo. Dengan tanpa melacak lebih lanjut ke tingkat yang lebih tinggi guna menggali tahu siapa yang memberi perintah untuk Prabowo, dan publik segera sadar bahwa pengungkapan permasalahan penculikan semata-mata memiliki sasaran tunggal yaitu menggeser Prabowo.
Wiranto lantas dengan leluasa mengerjakan konsolidasi di tubuh TNI dan dinilai sebagai pembersihan terhadap orang-orang yang loyal terhadap Prabowo, puncaknya memarginalisasi semua perwira yang dekat dengan Prabowo dan dilakukannya mutasi besar-besaran 100 perwira ABRI pada 4 Januari 1999
Prof. Sumitro berbicara keadilan terhadap masalah yang dihadapi Prabowo tampak kabur dan ngawur, sebab seakan seluruh hujatan terpusat pada Kopassus dan Prabowo.
Prof. Soemitro merasa terdapat sesuatu yang janggal dimana pada tnggal 14 mei 1998, Wiranto ngotot memberangkatkan seluruh jendral urgen ke Malang guna menghadiri PPR sebenarnya sudah terdapat info bahwa bakal terjadi kerusuhan besar-besaran di Jakarta. Saat tersebut prabowo juga mencoba menyerahkan saran untuk Wiranto guna tidak berangkat ke malang. Prabowo menuliskan apakah tidak usahakan ia sedang di Jakarta guna berjaga-jaga menolong Pangdam Mayjen Sjafrie Sjamsuddin, tetapi Wiranto tetap bersikeras bahwa seluruh harus berangkat meninggalkan Jakarta! Ini berarti mengorbankan ketenteraman Jakarta. Padahal harusnya upacara pergantian Pasukan Pemukul Reaksi Cepat (PPRC) lumayan hanya dilaksanakan oleh panglima divisi
Saat tersebut Prof. Soemitro menilai sikap Wiranto sangatlah janggal dan mengasumsikan keras tersembunyi maksud-maksud terselubung kenapa Wiranto mengungsikan semua pimpinan pasukan. Untuk Sumitro urusan inilah yang mesti diusut tuntas untuk menyingkap misteri tebal di seputar kerusuhan 13-15 Mei 1998 dan rekomendasi Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) supaya pemerintah mengusut pertemuan sekian banyak tokoh tanggal 14 Mei 1998 di Makostrad
Yang terjadi pada Mei 1998 memang tidak sedikit kejanggalan khususnya di tubuh TNI AD dan bahwa Prabowo tidak di-ajukan ke Mahkamah Militer bukan sebab dia menolak, tetapi TNI AD tidak mau membawa Prabowo ke Mahkmi. Silahkan masyarakat menilai siapa sebetulnya yang fobia terbongkar boroknya.

Comments
Post a Comment