Arsip Kedutaan Besar Amerika Serikat pulang dibuka. Kali ini berhubungan Peristiwa 1998. Sebuah dokumen berjudul "Soeharto Out by Year End (R 080915Z MAY 98)" menyebut perbedaan sikap antara Jenderal Wiranto dan Letnan Jenderal Prabowo Subianto. Di samping bersama-sama memadamkan demonstrasi, catat dokumen tersebut, “Prabowo pun terlibat adu kekuatan dengan Wiranto.”
Jenderal Wiranto ialah Panglima Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) terakhir di masa Orde Baru. Di akhir berkuasanya Soeharto, Letnan Jenderal Prabowo Subianto Djojohadikusumo menjabat Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Kostrad). Keduanya tampak disayang Soeharto. Wiranto, yang dulu pernah menjadi ajudan Soeharto, memenuhi jabatan nomor satu di ABRI. Prabowo, walau belum jadi orang nomor satu di Angkatan Darat, punya posisi maha urgen di Kostrad. Soal bahwa Prabowo ialah mantu Soeharto, ialah perkara lain.
Wiranto, bermunculan di Yogyakarta 4 April 1947, lulus dari Akademi ABRI (Akabri) pada 1968. Sementara Prabowo, kelahiran Jakarta 17 Oktober 1951, lulus pada 1974. Karier Wiranto dibuka di batalyon infanteri Angkatan Darat, sedangkan Prabowo di korps baret merah, yang di era 1970an dikenal dengan nama Komando Pasukan Sandhi Yudha (Kopassandha). Jika Wiranto pernah meniti karier sebagai panglima dengan wilayah teritorial—sebagai Panglima KODAM Jaya, Jakarta Raya—Prabowo lebih dikenal sebab memimpin pasukan khusus mempunyai nama Komando Pasukan Khusus (Kopassus).
Baca juga:
Keliling Jabar, Prabowo Kenang Dirinya Saat Jadi Jenderal Kopassus
Dalam Perjalanan Seorang Prajurit Para Komando (2009:28) yang dibentuk Hendro Subroto, Sintong Panjaitan menuliskan tidak ada kompetisi antara Wiranto dan Prabowo di masa kepresidenan Soeharto. Berdasarkan keterangan dari Fadli Zon, orang terdekat Prabowo, dalam Politik huru-hara Mei 1998 (2004:25), “[R]ivalitas Wiranto dan Prabowo menjadi percakapan kalangan elit terutama elit tentara sejak mula 1998.”
Wiranto nampaknya dapat dianggap bersikap “tidak loyal” untuk Soeharto, mertua Prabowo kala itu. Sebagai panglima ABRI, Wiranto dapat saja dirasakan gagal menahan gerakan mahasiswa yang hendak melengserkan Soeharto. “Wiranto mengamini pengangkatan Habibie sebagai presiden,” tulis Willem Oltmans dalam Indonesia Diobok-obok (2001:77-80). Dalam twitnya (20/06/2014), Fadli Zon menyinggung "Wiranto dari dulu tak pernah suka Prabowo. Ia iri sebab karier militer Prabowo bagus dan digemari para prajurit."
Sehari sesudah Bacharudin Jusuf Habibie disumpah menggantikan Soeharto sebagai presiden, Prabowo dirasakan bergerak sendiri. Dalam kitab Detik-detik Yang Menentukan (2006:81), Habibie melafalkan bahwa pada pagi 22 Mei 1998, Wiranto melaporkan eksistensi pasukan Kostrad yang bergerak mengarah ke Jakarta serta fokus pasukan di dekat kediaman Habibie di Kuningan dan Istana Merdeka.
Berdasarkan keterangan dari pengakuan Habibie, Wiranto mohon petunjuk kepadanya selaku presiden. Mendengar laporan Wiranto, Habibie berkesimpulan bahwa “Pangkostrad (Prabowo) beraksi sendiri tanpa sepengetahuan Pangab.”
Baca juga:
Hikayat Cinta Habibie dan Ainun
“Sebelum matahari terbenam, Pangkostrad mesti diganti dan untuk penggantinya diperintahkan supaya semua pasukan di bawah komando Pangkostrad mesti pulang ke basis kesatuan masing-masing,” tegas Habibie. Wiranto sempat meyakinkan perintah presiden. “Sebelum matahari terbenam?” tanyanya.
“Sebelum matahari terbenam,” tegas Habibie. “Siapa yang bakal mengganti?” tanya Wiranto. “Terserah Pangab,” pungkas Habibie.
Pangab Wiranto lantas mengusulkan untuk presiden supaya Letnan Jenderal Johny Lumintang—yang saat tersebut menjabat Asisten Operasi Pangab—untuk sementara memenuhi posisi Pangkostrad, menggantikan Prabowo yang mesti ditanggalkan sebelum matahari tenggelam.
Berdasarkan perintah sang presiden baru, Prabowo mesti memberikan jabatan Pangkostrad dan kehilangan pasukan. Sebagai prajurit, Prabowo mesti menerima perintah, lagipula perintah dari Panglima tertinggi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) yang tak lain ialah presiden sendiri.
Baca juga:
21 Mei 1998: Soeharto Akhirnya Lengser
“Saya mengamini usul Pangab (Wiranto) guna melantik Panglima Divisi Siliwangi, Mayor Jenderal Djamari Chaniago sebagai Pangkostrad esok harinya pada 23 Mei 1998,” aku Habibie.
Seperti ditulis dalam Detik-detik Yang Menentukan (2006:100-102), sebelum terjadi peralihan itu, tepatnya pada 22 Mei 1998 pukul 13.30, Prabowo menghadap Habibie. Ia mengekor aturan protokoler: memberikan senjata yang dibawanya sebelum bertemu presiden.
Ada bentrokan kecil sesudah Prabowo masuk ke ruangan Habibie. “Ini sebuah penghinaan untuk keluarga saya dan family mertua saya, Presiden Soeharto, Anda sudah memecat saya sebagai Pangkostrad," tukas Prabowo.
Infografik Wiranto vs Prabowo
“Anda tidak dipecat, namun jabatan kita diganti,” cerah Habibie. “Mengapa?” gugat Prabowo.
Habibie kesudahannya membeberkan laporan Wiranto mengenai pergerakan pasukan Kostrad. “Saya bermaksud untuk menyelamatkan Presiden,” kilah Prabowo. “Itu ialah tugas Pasukan Pengamanan Presiden yang bertanggungjawab langsung pada Pangab dan bukan tugas Anda,” jawab Habibie.
Sintong punya jawaban tersendiri soal kenapa Wiranto dapat bertahan sebagai Menteri Pertahanan Keamanan/Panglima ABRI. Laporan soal gerakan binal pasukan Kostrad menciptakan Wiranto diandalkan Habibie. Di mata Habibie, menurut keterangan dari Sintong dalam Perjalanan Seorang Prajurit Para Komando (2009:29), Wiranto ialah orang yang “jujur, bermoral, dan beretika.”
Baca juga:
Mereka Tetap Jenderal Setelah Tragedi Mei 1998
Karena hal-hal yang diceritakan Sintong itulah Habibie tak ambil pusing dengan kegagalan Wiranto menanggulangi huru-hara Mei 1998.
Di ketika karier militer Prabowo terjun bebas, Wiranto memegang jabatan Panglima ABRI dan Menteri Pertahanan sampai 1999.
Memasuki tahun 2000an, Prabowo dan Wiranto berjumpa di gelanggang politik. Keduanya berlomba memperoleh sokongan Partai Golkar guna maju sebagai calon presiden. Wiranto menang dalam konvensi Golkar, namun kalah di bilik suara oleh Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang saat tersebut berduet dengan Jusuf Kalla (JK).
Pada 2006, Wiranto menegakkan Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura). Dua tahun kemudian, Prabowo mendeklarasikan Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra). Pada 2009, Prabowo berpasangan dengan Megawati, sedangkan Wiranto menggandeng Jusuf Kalla. Kedua pasangan calon, lagi-lagi, keok oleh SBY yang kali ini merangkul Boediono.
Pada 2016, Wiranto kejatuhan durian runtuh. Ia masuk kabinet Jokowi dan menempati kursi Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan.
Baca juga tulisan bersangkutan ORDE BARU atau tulisan unik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Politik)
Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Windu Jusuf
Jenderal Wiranto ialah Panglima Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) terakhir di masa Orde Baru. Di akhir berkuasanya Soeharto, Letnan Jenderal Prabowo Subianto Djojohadikusumo menjabat Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Kostrad). Keduanya tampak disayang Soeharto. Wiranto, yang dulu pernah menjadi ajudan Soeharto, memenuhi jabatan nomor satu di ABRI. Prabowo, walau belum jadi orang nomor satu di Angkatan Darat, punya posisi maha urgen di Kostrad. Soal bahwa Prabowo ialah mantu Soeharto, ialah perkara lain.
Wiranto, bermunculan di Yogyakarta 4 April 1947, lulus dari Akademi ABRI (Akabri) pada 1968. Sementara Prabowo, kelahiran Jakarta 17 Oktober 1951, lulus pada 1974. Karier Wiranto dibuka di batalyon infanteri Angkatan Darat, sedangkan Prabowo di korps baret merah, yang di era 1970an dikenal dengan nama Komando Pasukan Sandhi Yudha (Kopassandha). Jika Wiranto pernah meniti karier sebagai panglima dengan wilayah teritorial—sebagai Panglima KODAM Jaya, Jakarta Raya—Prabowo lebih dikenal sebab memimpin pasukan khusus mempunyai nama Komando Pasukan Khusus (Kopassus).
Baca juga:
Keliling Jabar, Prabowo Kenang Dirinya Saat Jadi Jenderal Kopassus
Dalam Perjalanan Seorang Prajurit Para Komando (2009:28) yang dibentuk Hendro Subroto, Sintong Panjaitan menuliskan tidak ada kompetisi antara Wiranto dan Prabowo di masa kepresidenan Soeharto. Berdasarkan keterangan dari Fadli Zon, orang terdekat Prabowo, dalam Politik huru-hara Mei 1998 (2004:25), “[R]ivalitas Wiranto dan Prabowo menjadi percakapan kalangan elit terutama elit tentara sejak mula 1998.”
Wiranto nampaknya dapat dianggap bersikap “tidak loyal” untuk Soeharto, mertua Prabowo kala itu. Sebagai panglima ABRI, Wiranto dapat saja dirasakan gagal menahan gerakan mahasiswa yang hendak melengserkan Soeharto. “Wiranto mengamini pengangkatan Habibie sebagai presiden,” tulis Willem Oltmans dalam Indonesia Diobok-obok (2001:77-80). Dalam twitnya (20/06/2014), Fadli Zon menyinggung "Wiranto dari dulu tak pernah suka Prabowo. Ia iri sebab karier militer Prabowo bagus dan digemari para prajurit."
Sehari sesudah Bacharudin Jusuf Habibie disumpah menggantikan Soeharto sebagai presiden, Prabowo dirasakan bergerak sendiri. Dalam kitab Detik-detik Yang Menentukan (2006:81), Habibie melafalkan bahwa pada pagi 22 Mei 1998, Wiranto melaporkan eksistensi pasukan Kostrad yang bergerak mengarah ke Jakarta serta fokus pasukan di dekat kediaman Habibie di Kuningan dan Istana Merdeka.
Berdasarkan keterangan dari pengakuan Habibie, Wiranto mohon petunjuk kepadanya selaku presiden. Mendengar laporan Wiranto, Habibie berkesimpulan bahwa “Pangkostrad (Prabowo) beraksi sendiri tanpa sepengetahuan Pangab.”
Baca juga:
Hikayat Cinta Habibie dan Ainun
“Sebelum matahari terbenam, Pangkostrad mesti diganti dan untuk penggantinya diperintahkan supaya semua pasukan di bawah komando Pangkostrad mesti pulang ke basis kesatuan masing-masing,” tegas Habibie. Wiranto sempat meyakinkan perintah presiden. “Sebelum matahari terbenam?” tanyanya.
“Sebelum matahari terbenam,” tegas Habibie. “Siapa yang bakal mengganti?” tanya Wiranto. “Terserah Pangab,” pungkas Habibie.
Pangab Wiranto lantas mengusulkan untuk presiden supaya Letnan Jenderal Johny Lumintang—yang saat tersebut menjabat Asisten Operasi Pangab—untuk sementara memenuhi posisi Pangkostrad, menggantikan Prabowo yang mesti ditanggalkan sebelum matahari tenggelam.
Berdasarkan perintah sang presiden baru, Prabowo mesti memberikan jabatan Pangkostrad dan kehilangan pasukan. Sebagai prajurit, Prabowo mesti menerima perintah, lagipula perintah dari Panglima tertinggi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) yang tak lain ialah presiden sendiri.
Baca juga:
21 Mei 1998: Soeharto Akhirnya Lengser
“Saya mengamini usul Pangab (Wiranto) guna melantik Panglima Divisi Siliwangi, Mayor Jenderal Djamari Chaniago sebagai Pangkostrad esok harinya pada 23 Mei 1998,” aku Habibie.
Seperti ditulis dalam Detik-detik Yang Menentukan (2006:100-102), sebelum terjadi peralihan itu, tepatnya pada 22 Mei 1998 pukul 13.30, Prabowo menghadap Habibie. Ia mengekor aturan protokoler: memberikan senjata yang dibawanya sebelum bertemu presiden.
Ada bentrokan kecil sesudah Prabowo masuk ke ruangan Habibie. “Ini sebuah penghinaan untuk keluarga saya dan family mertua saya, Presiden Soeharto, Anda sudah memecat saya sebagai Pangkostrad," tukas Prabowo.
Infografik Wiranto vs Prabowo
“Anda tidak dipecat, namun jabatan kita diganti,” cerah Habibie. “Mengapa?” gugat Prabowo.
Habibie kesudahannya membeberkan laporan Wiranto mengenai pergerakan pasukan Kostrad. “Saya bermaksud untuk menyelamatkan Presiden,” kilah Prabowo. “Itu ialah tugas Pasukan Pengamanan Presiden yang bertanggungjawab langsung pada Pangab dan bukan tugas Anda,” jawab Habibie.
Sintong punya jawaban tersendiri soal kenapa Wiranto dapat bertahan sebagai Menteri Pertahanan Keamanan/Panglima ABRI. Laporan soal gerakan binal pasukan Kostrad menciptakan Wiranto diandalkan Habibie. Di mata Habibie, menurut keterangan dari Sintong dalam Perjalanan Seorang Prajurit Para Komando (2009:29), Wiranto ialah orang yang “jujur, bermoral, dan beretika.”
Baca juga:
Mereka Tetap Jenderal Setelah Tragedi Mei 1998
Karena hal-hal yang diceritakan Sintong itulah Habibie tak ambil pusing dengan kegagalan Wiranto menanggulangi huru-hara Mei 1998.
Di ketika karier militer Prabowo terjun bebas, Wiranto memegang jabatan Panglima ABRI dan Menteri Pertahanan sampai 1999.
Memasuki tahun 2000an, Prabowo dan Wiranto berjumpa di gelanggang politik. Keduanya berlomba memperoleh sokongan Partai Golkar guna maju sebagai calon presiden. Wiranto menang dalam konvensi Golkar, namun kalah di bilik suara oleh Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang saat tersebut berduet dengan Jusuf Kalla (JK).
Pada 2006, Wiranto menegakkan Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura). Dua tahun kemudian, Prabowo mendeklarasikan Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra). Pada 2009, Prabowo berpasangan dengan Megawati, sedangkan Wiranto menggandeng Jusuf Kalla. Kedua pasangan calon, lagi-lagi, keok oleh SBY yang kali ini merangkul Boediono.
Pada 2016, Wiranto kejatuhan durian runtuh. Ia masuk kabinet Jokowi dan menempati kursi Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan.
Baca juga tulisan bersangkutan ORDE BARU atau tulisan unik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Politik)
Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Windu Jusuf

Comments
Post a Comment