Skip to main content

POHON HARAPAN DUNGUS FORERST PARK

Di Dungus Forest Park, Madiun, salah satu wujud perhutanan sosial yang diresmikan Presiden Jokowi pada Senin, 6/11/2017 lalu, Mas Herutomo yang tokoh Jaringan Pekerja Budaya Madiun sedang bergulat membangun galerry ranting di lahan seluas satu hektar dari tujuh hektar yang akan difungsikan sebagai hutan wisata. Ini sungguh kerja budaya yang sangat keras, mengingat kegiatan tersebut sepenuhnya swadaya petani hutan sosial Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) Ngadi Waluyo bersama komunitas Jaringan Pekerja Budaya Madiun.


Pada Juli dan Agustus tahun lalu, Jaringan Pekerja Budaya Madiun telah membuat dua buah Monumen Gembok Kejujuran di Kota dan Kabupaten Madiun. Kedua monumen berupa seni intalasi yang dibuat secara swadaya itu dan diresmikan Walikota dan Bupati Madiun itu kini menjadi ikon kota tempat warga selfie dan menguncikan gembok sebagai komitmen untuk hidup jujur..


Dan sejak Januari lalu,, Mas Herutomo dan komunitasnya mulai menggarap gallery ranting di Dungus Forest Park. Sejumlah seni instalasi dari ranting walikukun, sudah berdiri di lahan seluas satu hektar. Ada yang berbentuk rumah pohon, patung simbok, bulus, rumah kurcaci dan lainnya. Seni instalasi tersebut kini menjadi ikon yang popular untuk latar selfie puluhan orang yang berekreasi di hutan wisata itu.


Sore itu, ketika berbincang dengan Mas Herutomo yang berniat membuat seni instalasi Pohon Kalpataru (Pohon Harapan) yang serupa bentuk pohon beringin,  entah kenapa itu mengingatkan saya pada sosok Bambang Soesetyo atau Bamsoet, tokoh Golkar yang belum lama ini terpilih menjadi Ketua DPR RI.


Saya tidak kenal secara pribadi dengan Bamsoet. Tapi, sebagai jurnalis sejak era Orde Baru, saya tahu bahwa Bamsoet adalah wartawan cemerlang sejak di Harian Umum Prioritas, Majalah Vista, pada usia 29 tahun menjadi  Pemimpin Redaksi Majalah Info Bisnis, kemudian mengelola dan menjabat Pemimpin Redaksi Harian Suara Karya.

Saya tidak paham politik. Bamsoet sebagai politisi hanya saya simak dari statement, pandangan, kritik dan pendapatnya yang hemat saya selalu terukur obyektivitasnya, selalu jelas pijakan data dan faktanya. Saya pikir, setidaknya hal itu dikarenakan latar belakang kewartawanannya yang dituntut memiliki tradisi berpikir bebas, kritis, serta teguh bersikap dan berpedoman pada prinsip cover both side.


Oleh karena itu, sebagai jurnalis zaman old, ketika Bamsoet terpilih sebagai Ketua DPR RI menggantikan Setnov, saya "berani" punya harapan baru kepada lembaga DPR RI. Sebabnya, antara lain, sebagai jurnalis politisi  tentu Bamsoet akan menjadi Ketua DPR yang punya tradisi berpikir bebas, kritis, serta teguh bersikap dan berpedoman pada prinsip cover both side. Dengan demikian Bamsoet akan lebih "obyektif" dalam memandang "realitas psikologis" maupun "realitas sosiologis" lembaga yang ia pimpin. Sebab, "kedua realitas" tersebut merupakan "fakta" mendasar yang biasa dan lazim dipahami oleh jurnalis.


Saya juga "bertaruh" dengan harapan Bamsoet tidak hanya bersikap normatif dan klise bahwa lembaga yang dipimpinnya akan lebih mendengar suara rakyat, akan mengembalikan citra dan kepercayaan rakyat pada wakilnya, serta obral retorika elok nan kosong lainnya. Saya "bertaruh" Bamsoet tidak hanya pasif mendengar suara rakyat tapi justru secara agresif BERTANYA langsung kepada rakyat apa yang mereka inginkan, apa yang mereka harapkan. Sebab, bagi setiap jurnalis, BERTANYA itu menggali kebenaran. BERTANYA itu mencari dan menemukan kebenaran. Maka demikialah seorang jurnalis dinilai, diapresiasi, dihormati dan dikenang dari mutu pertanyaannya! 


Di Dungus Forest Park Madiun, harapan baru pada Ketua DPR baru itu entah kenapa berkelebat kembali. Barangkali karena kami sedang membahas seni instalasi berbentuk Pohon Kalpataru, pohon pengharapan. Mungkin juga karena saya tidak hanya ingin sekadar terlibat merancang disain pohon pengharapan tapi juga ingin menyuarakan harapan rakyat kepada wakilnya yang duduk  di singgasana Ibu Kota, jauh dari wong cilik yang berdiam di dusun-dusun sunyi dan terlupakan. ***

Comments

Popular posts from this blog

DON HASMAN SANG FOTOGRAFER PENJELAJAH

Siang itu, Kamis, 19 April 2018, Dungus Forest Park Madiun kedatangan tamu luar biasa spesial: DON HASMAN. Masyarakat awam, utamanya di daerah, mungkin tidak banyak yang tahu siapa Don Hasman. Bahkan Mas Herutomo, yang sedang bergulat menyempurnakan gallery ranting di destinasi wisata hutan itu, hanya terkesima oleh kehadiran pria berusia 78 tahun yang menyalaminya dengan hangat. Don Hasman memang lebih dikenal karya etnofotografinya dibanding wajahnya. Bukan hanya di Indonesia, karya fotografi Don Hasman bahkan dikenal dunia! Maklum, sepanjang usianya, Don Hasman telah mendaki  banyak gunung di dunia, menjelajah suku-suku pedalaman.  Dia adalah orang Indonesia pertama yang mendaki Himalaya. Pada 1978, dia menaklukkan puncak Nuptse (7.861 mdpl). Dua tahun sebelumnya, Don Hasman menaklukkan Kala Patthar (5.644) dalam perjalanan menuju Everest Base Pria kelahiran Cirebon, 7 Oktober 1940, itu memang terkenal sebagai penjelajah. Pada  1986, Oom Don berhasil...

Hotel Tentrem TRADE MARK JAWA HOTEL BINTANG LIMA PILIHAN OBAMA

Perusahaan besar, apalagi hotel bintang lima, lazimnya memilih trade mark yang gagah, elite dan kebarat-baratan. Oleh karena itu, keputusan Irwan Hidayat, Presdir Sido Muncul, untuk menamai hotel bintang lima miliknya sebagai Hotel Tentrem, hemat saya, terbilang "berani" menabrak kelaziman.  Tapi, Mas Irwan yang saya kenal sejak 1992, memang seorang pengusaha visioner dan berpikiran otentik--sehingga sering dibilang "nyleneh". Ketika produk minuman energi pesaingnya gencar menayangkan iklan yang dibintangi olahragawan internasional berhonor miliaran, misalnya, Mas Irwan justru merilis iklan Kuku Bima produk Sido Muncul yang dibintangi Chris John, petinju nasional yang kemudian menjadi juara tinju dunia. Keputusan "nyleneh" Mas Irwan "menabrak" bintang iklan internasional dengan menampilkan bintang iklan nasional, tentu butuh keberanian mengambil risiko. Tak hanya itu, Mas Irwan juga menerima tantangan saya untuk menyandingkan Chr...

Televisi NASIB HIBURAN GRATIS RAKYAT KECIL Harry Tjahjono

Tahun 1989, ketika TV swasta belum ada, saya sudah menulis sinetron untuk TVRI. Tahun 1992, saya mengelola tabloid Bintang Indonesia bersama Yanto Bhokek, Erwin Arnada, Gunawan Wibisono, Ricke Senduk dan kemudian Arswendo Atmowiloto. Saya menggantikan posisi Bujang Pratiko, pemimpin redaksi tabloid televsi, film dan hiburan itu. Ketika itu RCTI baru lahir, disusul TPI. Dan Bintang Indonesia mengisi kekosongan penerbitan pers tentang televisi setelah tabloid Monitor dibredel dan Arswendo dipenjarakan. Monitor dan Arswendo merupakan media dan sastrawan jurnalis yang (pertama kali) secara spesifik, intens dan serius mengulas dan mengkritisi  produk, produser, penyelenggara dan artis pendukung acara televisi. Tidak ada program televisi yang luput dari pengamatan Monitor dan kritik Arswendo. Prestasi stake-holder televisi pun selalu diapresiasi Monitor dan dipujikan Arswendo yang menciptakan dan memopularkan istilah Sinetron, akronim dari Sinema Elektronik. Losmen, Jendel...