Skip to main content

NARASOMA PEWARIS TLATAH WILIS



Syahdan sandyakalaning Majapahit di Abad XV selain mewariskan sejumlah petilasan dan sidik jari sejarah, juga telah melahirkan serangkaian mitos dan legenda yang sebagian diyakini sebagai peristiwa nyata. Konon pula dalam pelariannya, Prabu Brawijaya IV yang melanglang tanah Jawa sebelum akhirnya moksa, telah pula melahirkan beragam cerita rakyat yang luar biasa. 


Kisah NARASOMA Pewaris Tlatah Wilis bukan cerita sejarah, walaupun berlatar sejarah. Kisah ini hanya sekadar melengkapi dan, kalau mungkin, memperkaya cerita rakyat yang sudah lebih dulu ada. Cerita yang sepenuhnya dipetik dari imajinasi yang kebetulan mengembara di ruang sejarah, berkelana di lorong mitologi, berpakansi di pesona ragam legenda yang "hidup" di tengah rakyat kebanyakan Dan bertumbuh menjadi kearifan lokal maupun sekadar dongeng semata.

NARASOMA bukanlah tokoh sejarah yang nyata. Begitu pula tokoh-tokoh dan tempat kejadian cerita dalam kisah Pewaris Tlatah Wilis, seluruhnya adalah rekaan penulis yang bisa jadi secara tidak sengaja atau kebetulan saja bersinggungan dengan kenyataan yang sebenarnya. Begitu pula "penafsiran" tentang suatu situs sebagai jejak sejarah, misalnya, sepenuhnya berpijak pada kepentingan "membangun" struktur alur cerita semata. 

Oleh karena itu "penafsiran" Candi Sukuh dalam kisah NARASOMA barangkali dan sudah barang tentu "menyempal" dari kaidah sejarah. Sebab, dalam cerita Pewaris Tlatah Wilis ini dikisahkan pula betapa runtuhnya Majapahit bukan semata akibat kekalahan militer menghadapi balatentara lawan maupun kudeta, melainkan juga disebabkan dewa-dewa tidak lagi berpihak dan bahkan "berkhianat", sehingga pemangku Majapahit berupaya kembali berlindung pada pelukan "animisme ortodoks" dengan membangun sebuah candi yang memuliakan Lingga Yoni sebagai perlambang purba untuk melanggengkan eksistensi manusia.

Meskipun berlatar sejarah dan dibumbui  gagasan imajinatif tentang falsafah dan kepercayaan purba, kisah NARASOMA Pewaris Tlatah Wilis pada akhirnya adalah sebuah cerita pop yang sederhana, ringan dan menghibur. Demikianlah #SULUK_SENGKALA ini disampaikan sebagai anta-wacana ala kadarnya. Salam budaya gembira. ***

Comments

Popular posts from this blog

DON HASMAN SANG FOTOGRAFER PENJELAJAH

Siang itu, Kamis, 19 April 2018, Dungus Forest Park Madiun kedatangan tamu luar biasa spesial: DON HASMAN. Masyarakat awam, utamanya di daerah, mungkin tidak banyak yang tahu siapa Don Hasman. Bahkan Mas Herutomo, yang sedang bergulat menyempurnakan gallery ranting di destinasi wisata hutan itu, hanya terkesima oleh kehadiran pria berusia 78 tahun yang menyalaminya dengan hangat. Don Hasman memang lebih dikenal karya etnofotografinya dibanding wajahnya. Bukan hanya di Indonesia, karya fotografi Don Hasman bahkan dikenal dunia! Maklum, sepanjang usianya, Don Hasman telah mendaki  banyak gunung di dunia, menjelajah suku-suku pedalaman.  Dia adalah orang Indonesia pertama yang mendaki Himalaya. Pada 1978, dia menaklukkan puncak Nuptse (7.861 mdpl). Dua tahun sebelumnya, Don Hasman menaklukkan Kala Patthar (5.644) dalam perjalanan menuju Everest Base Pria kelahiran Cirebon, 7 Oktober 1940, itu memang terkenal sebagai penjelajah. Pada  1986, Oom Don berhasil...

Hotel Tentrem TRADE MARK JAWA HOTEL BINTANG LIMA PILIHAN OBAMA

Perusahaan besar, apalagi hotel bintang lima, lazimnya memilih trade mark yang gagah, elite dan kebarat-baratan. Oleh karena itu, keputusan Irwan Hidayat, Presdir Sido Muncul, untuk menamai hotel bintang lima miliknya sebagai Hotel Tentrem, hemat saya, terbilang "berani" menabrak kelaziman.  Tapi, Mas Irwan yang saya kenal sejak 1992, memang seorang pengusaha visioner dan berpikiran otentik--sehingga sering dibilang "nyleneh". Ketika produk minuman energi pesaingnya gencar menayangkan iklan yang dibintangi olahragawan internasional berhonor miliaran, misalnya, Mas Irwan justru merilis iklan Kuku Bima produk Sido Muncul yang dibintangi Chris John, petinju nasional yang kemudian menjadi juara tinju dunia. Keputusan "nyleneh" Mas Irwan "menabrak" bintang iklan internasional dengan menampilkan bintang iklan nasional, tentu butuh keberanian mengambil risiko. Tak hanya itu, Mas Irwan juga menerima tantangan saya untuk menyandingkan Chr...

Televisi NASIB HIBURAN GRATIS RAKYAT KECIL Harry Tjahjono

Tahun 1989, ketika TV swasta belum ada, saya sudah menulis sinetron untuk TVRI. Tahun 1992, saya mengelola tabloid Bintang Indonesia bersama Yanto Bhokek, Erwin Arnada, Gunawan Wibisono, Ricke Senduk dan kemudian Arswendo Atmowiloto. Saya menggantikan posisi Bujang Pratiko, pemimpin redaksi tabloid televsi, film dan hiburan itu. Ketika itu RCTI baru lahir, disusul TPI. Dan Bintang Indonesia mengisi kekosongan penerbitan pers tentang televisi setelah tabloid Monitor dibredel dan Arswendo dipenjarakan. Monitor dan Arswendo merupakan media dan sastrawan jurnalis yang (pertama kali) secara spesifik, intens dan serius mengulas dan mengkritisi  produk, produser, penyelenggara dan artis pendukung acara televisi. Tidak ada program televisi yang luput dari pengamatan Monitor dan kritik Arswendo. Prestasi stake-holder televisi pun selalu diapresiasi Monitor dan dipujikan Arswendo yang menciptakan dan memopularkan istilah Sinetron, akronim dari Sinema Elektronik. Losmen, Jendel...