Skip to main content

HOTEL TENTREM ,WARISAN PANTANG MENYERAH


WARISAN PANTANG MENYERAH
Harry Tjahjono


Menjadi tamu pribadi pemilik hotel bintang lima, bagi saya, selain menyenangkan juga bikin kikuk. Begitulah ketika saya diajak menginap di Hotel Tentrem, Yogyakarta, oleh Mas Irwan Hidayat, Presdir Sido Muncul dan pemilik hotel bintang lima yang dipilih mantan Presiden Amerika Obama untuk menginap ketika berkunjung ke Yogyakarta. Syukurlah, suasana kekeluargaan dan sikap egaliter Mas Irwan terhadap manager dan karyawan hotelnya, membuat saya merasa nyaman.



Breakfast, lunch dan dinner yang lezatnya "inuk tinun" memang memuaskan selera makan saya. Tapi, barangkali karena terbiasa menjalani keseharian sebagai seniman, saya lebih tertarik pada "detail" elemen artistik semisal lukisan, ornamen dekoratif, patung dan tentu saja dua buah Bajaj bertandatangan Presiden Jokowi dan Wapres Jusuf Kalla yang dipajang di lobi hotel. 


Hemat saya, kedua Bajaj itu sungguh ikon otentik Hotel Tentrem.  Tentu bukan karena "kebajaiannya" melainkan karena cerita menarik bahwa kedua angkutan rakyat itu dulu dinaiki Pak Jokowi dan Pak JK ketika mendaftar di KPU sebagai Capres -.Cawapres RI 2014-2019.  Mas Irwan, yang mengenal dua tokoh nasional itu, tergerak untuk “menyelamatkan" dua bajaj “bersejarah" itu. Ia melacak pemilik bajaj, membelinya dan, "Berkat bantuan (alm) Sys NS, bajaj itu bisa ditandatangani Pak Jokowi" kata Mas Irwan. 


Demikianlah kedua Bajaj yang di di kaca depannya bertuliskan "Tuhan, berkatilah Indonesia" dan di bawahnya ditandatangani Presiden Jokowi dan Wapres JK itu kini parkir di lobi Hotel Tentrem, menjadi ikon otentik yang popular jadi latar selfie tamu hotel dari dalam dan luar negeri. Ikon otentik karena, saya yakin, hanya ada di Hotel Tentrem dan mustahil ada di lobi hotel bintang lima di dunia.


Saya juga terkesan dengan museum, tepatnya gallery, jamu Sido Muncul di serambi Hotel Tentrem. Berbagaii benda, alat pembuatan dan bahan jamu tradisional serta produk Sido Muncul dipajang di kedai kayu sederhana. Suasana Jawa semakin kental lantaran di gallery tersebut dipajang pelbagai produk batik kualitas butik. Di atas kedai jamu, dipajang sebuah foto lama mendiang Ibu Yahya Hidayat, Ibunda Mas Irwan dan pendiri sekaligus pionir perusahaan farmasi dan jamu Sido Muncul. 


Foto itu mengingatkan saya pada sosok Ibu Yahya yang bersahaja. Tahun 2000, di Semarang, saya pernah mewancarai beliau di rumahnya yang sederhana, jauh dari kesan mewah layaknya milik pendiri sebuah perusahaan nasional. Dalam busana bernuansa putih yang rapih, pada usia 70 tahun perempuan berpenampilan tenang itu tampak enerjik dan ramah. Sedikitnya ada tiga hal yang saya ingat dari kisah yang diceritakan Ibu Yahya dengan suara halus.


Pertama, meski usianya sudah 70 tahun, setiap minggu ia masih rutin berbagi dan memberikan pelayanan sosial kepada para lansia dan penderita gangguan mental. Selain itu, ia juga mengisi waktu luangnya dengan membuat taplak dan bedcover dari kain perca yang beberapa di antaranya dengan bangga dipamerkan kepada saya. Untuk itu, ia dibantu seorang perempuan muda yang juga diajarinya mencipta seni kria kain perca yang harganya mencapai jutaan rupiah. Kegiatan rutin tersebut, menurutnya, membuat hidupnya menjadi berguna dan bahagia.


Kedua, ketika kepemimpinan Sido Muncul diserahkan kepada anak-ananya dan berkembang pesat menjadi perusahaan farmasi dan jamu terbesar di Indonesia, Ibu Yahya minta jabatan khusus: Direktur Kebersihan. Sebab, menurut beliau, anak muda lebih suka jabatan yang mentereng , yang tidak berurusan dengan sampah, air got dan hal kotor lainnya. Padahal, katanya, masalah kebersihan harus diurus dengan benar, disiplin dan serius. Alhasil, selama menjabat Direktur Kebersihan, perempuan pendiri Sido Muncul itu dengan disiplin tinggi berhasil membangun higienitas berstandar tinggi kepada direksi dan ratusan karyawan Sido Muncul.


Ketiga, kepada anak-anaknya, Ibu Yahya mengatakan bahwa ia hanya ingin mewariskan sikap hidup pantang menyerah.


Di Gallery Sido Muncul Hotel Tentrem, duduk di bangku kayu kedai jamu dan memandang foto Ibu Yahya yang wafat pada Kamis, 4 Agustus 2017, dalam usia 89 tahun, perjumpaan saya dengan perempuan luar biasa itu terasa baru kemarin terjadi. Dan kepada Mas Irwan saya bertanya, "Mas, kenapa di gallery ini saya tidak melihat karya kain perca Bu Yahya ya?"


Mas Irwan sesaat terdiam. "Iya ya. Good idea, Har! Thanks. Besok karya kain perca Bu Yahya saya pastikan ada di sini," kata Mas Irwan lalu memanggil manager Gallery.


Sebetulnya saya diminta menginap di Hotel Tentrem selama empat hari. Namun, pada malam kedua saya pamit menginap di rumah  "mantan" jurnalis dan seniman yang sudah hampir 10 tahun tidak ketemu. Beberapa tahun terakhir, sobat saya itu mengisi hari tuanya dengan buka warung Mi Bakso Tengah Malam di Malioboro. Namanya begitu karena baru buka pukul 24.00 dan tutup 03.00 WIB.


Sambil ngebir di kaki lima Malioboro, saya menyaksikan betapa sobat saya dengan gairah dan basah keringat melayani antrean pembeli yang mengular. Mi Bakso Tengah Malam memang terkenal "inuk tinun". Maklum jika sejak 23.30 pembeli sudah antre. Lebih dari itu, kegigihan sobat saya di hari tuanya itu mengingatkan saya pada Ibu Yahya yang mewariskan sikap hidup pantang menyerah

Comments

Popular posts from this blog

DON HASMAN SANG FOTOGRAFER PENJELAJAH

Siang itu, Kamis, 19 April 2018, Dungus Forest Park Madiun kedatangan tamu luar biasa spesial: DON HASMAN. Masyarakat awam, utamanya di daerah, mungkin tidak banyak yang tahu siapa Don Hasman. Bahkan Mas Herutomo, yang sedang bergulat menyempurnakan gallery ranting di destinasi wisata hutan itu, hanya terkesima oleh kehadiran pria berusia 78 tahun yang menyalaminya dengan hangat. Don Hasman memang lebih dikenal karya etnofotografinya dibanding wajahnya. Bukan hanya di Indonesia, karya fotografi Don Hasman bahkan dikenal dunia! Maklum, sepanjang usianya, Don Hasman telah mendaki  banyak gunung di dunia, menjelajah suku-suku pedalaman.  Dia adalah orang Indonesia pertama yang mendaki Himalaya. Pada 1978, dia menaklukkan puncak Nuptse (7.861 mdpl). Dua tahun sebelumnya, Don Hasman menaklukkan Kala Patthar (5.644) dalam perjalanan menuju Everest Base Pria kelahiran Cirebon, 7 Oktober 1940, itu memang terkenal sebagai penjelajah. Pada  1986, Oom Don berhasil...

Hotel Tentrem TRADE MARK JAWA HOTEL BINTANG LIMA PILIHAN OBAMA

Perusahaan besar, apalagi hotel bintang lima, lazimnya memilih trade mark yang gagah, elite dan kebarat-baratan. Oleh karena itu, keputusan Irwan Hidayat, Presdir Sido Muncul, untuk menamai hotel bintang lima miliknya sebagai Hotel Tentrem, hemat saya, terbilang "berani" menabrak kelaziman.  Tapi, Mas Irwan yang saya kenal sejak 1992, memang seorang pengusaha visioner dan berpikiran otentik--sehingga sering dibilang "nyleneh". Ketika produk minuman energi pesaingnya gencar menayangkan iklan yang dibintangi olahragawan internasional berhonor miliaran, misalnya, Mas Irwan justru merilis iklan Kuku Bima produk Sido Muncul yang dibintangi Chris John, petinju nasional yang kemudian menjadi juara tinju dunia. Keputusan "nyleneh" Mas Irwan "menabrak" bintang iklan internasional dengan menampilkan bintang iklan nasional, tentu butuh keberanian mengambil risiko. Tak hanya itu, Mas Irwan juga menerima tantangan saya untuk menyandingkan Chr...

Televisi NASIB HIBURAN GRATIS RAKYAT KECIL Harry Tjahjono

Tahun 1989, ketika TV swasta belum ada, saya sudah menulis sinetron untuk TVRI. Tahun 1992, saya mengelola tabloid Bintang Indonesia bersama Yanto Bhokek, Erwin Arnada, Gunawan Wibisono, Ricke Senduk dan kemudian Arswendo Atmowiloto. Saya menggantikan posisi Bujang Pratiko, pemimpin redaksi tabloid televsi, film dan hiburan itu. Ketika itu RCTI baru lahir, disusul TPI. Dan Bintang Indonesia mengisi kekosongan penerbitan pers tentang televisi setelah tabloid Monitor dibredel dan Arswendo dipenjarakan. Monitor dan Arswendo merupakan media dan sastrawan jurnalis yang (pertama kali) secara spesifik, intens dan serius mengulas dan mengkritisi  produk, produser, penyelenggara dan artis pendukung acara televisi. Tidak ada program televisi yang luput dari pengamatan Monitor dan kritik Arswendo. Prestasi stake-holder televisi pun selalu diapresiasi Monitor dan dipujikan Arswendo yang menciptakan dan memopularkan istilah Sinetron, akronim dari Sinema Elektronik. Losmen, Jendel...